Pengikut

Pengikut

Minggu, 24 Maret 2019

Indahnya Kebersamaan Antara Guru dan Teman SMP

Teman, mengingat betapa penting dan bermanfaatnya silaturrahim. Maka ketika salah satu teman SMP mengundang untuk kumpul-kumpul di rumahnya, saya usahakan bisa hadir selama tidak bentrok dengan jadwal lain. Oleh karenanya saya "iya" kan meski ditambahi kata tentative.


Foto keseruan bersama pak guru di taman belakang

Saya pun segera membuat janji dengan teman yang searah. Yaitu teman yang tinggalnya lebih dekat ke arah Parung. Karena tempat tinggal teman yang mengundang tersebut di daerah Bogor. Setelah membuat kesepakatan lalu kami berdua merencanakan buah tangan yang ingin dibawa.

Sebenarnya bukan keharusan apalagi tidak ada kesepakatan untuk saling membawa makanan. Namun sebagai orang timur, rasanya tidak enak saja kalau berkunjung ke rumah orang tak membawa tentengan alias buah tangan. Jadi mulai dipikirkan akan membawa apa ke sana?

Jajanan Tradisional

Setelah dipikir-pikir akhirnya disepakati untuk membawa jajanan tradisional saja. Berhubung saya memiliki usaha kue yang memang jenisnya jajanan tradisional, jadi tak perlu repot pesan ke tempat lain. Pesan saja ke www.instagram.com/warung_jande

Jajanan by warung_jande

Nah, teman. Satu manfaat silaturrahim sudah nyata terlihat. Membuka pintu rezeki. Ini baru niat eh, Allah sudah alirkan rezeki tak terduga. Betapa Maha Pemurahnya Allah.

Bersiap Meluncur ke Bogor

Berhubung sudah diniati dan membuat janjian, maka pada Sabtu, 23 Maret 2019 saya segera meluncur ke Serpong. Tempat tinggal teman yang mau berangkat bareng. Awalnya kami berniat naik motor saja. Tetapi ayah kawan ternyata bersedia mengantar. Jadilah saya naik mobil bareng teman.

Dalam perjalanan menuju Bogor kami sempat agak bingung. Sebab sedang ada pembangunan jalan. Jadi jalanan agak padat merayap. Tidak bisa melihat bagian seberang. Padahal posisi perumahan yang akan dituju berada di sebelah kanan jalan. Akhirnya setelah sempat bertanya dan mencari-cari arah putaran jalan, kami pun menemukan perumahan yang dituju.

Bersama tuan rumah

Begitu memasuki area perumahan ternyata kami sempat kebingungan mencari blok rumah yang dituju. Meski sempat salah belok akhirnya kami sampai juga ditujuan. Itu pun sempat ragu-ragu apa benar ini rumahnya. Karena sepi tak terlihat ada satu orang pun di luar. Padahal di grup WA sudah ada yang posting foto kalau mereka sudah sampai. Untungnya di garasi ada ayah si tuan rumah. Kami langsung dipersilakan masuk. Ternyata benar sudah ada teman yang datang. Mereka sedang menikmati toge goreng. Aish, tak tahan untuk kuliner rupanya.

Hahahihi, Selfie dan Wefie

Begitu masuk dan berjumpa dengan teman yang lain kami pun cipika-cipiki saling menanyakan kabar. Hahahihi saling berkomentar ini dan itu. "Lo kurusan deh kayaknya?" kata seorang teman. "Iye, jempolnya," sahut saya. Kami pun tertawa.

Both untuk seru-seruan

"Anak enggak diajak?" tanya seorang teman kepada teman yang lain. "Anak gue sih enggak ada yang mau kalau diajak-ajak. Tapinye suka baca dan tanya-tanya status gue," sahut si kawan yang ditanya. Beda lagi jawaban teman yang lain. "Anak gue bangunnya siang. Jadi santai."

Tetapi sebelum berhahahihi kami sudah menjumpai tuan rumah dan kedua orangtuanya. Maka ketika dipersilakan untuk menikmati suguhan yang tersaji kami tidak segan lagi. Begitu pula saat satu sama lain mengajak berfoto ria.

Asinan Bogor salah satu menu yang telah disiapkan

Oiya, teman yang menjadi tuan rumah kali ini sampai membuat hiasan semacam both demi menyambut kedatangan kita. Kreatif sekali ya dia? Terima kasih Anne. Begitu nama teman kami tersebut.

Kedatangan Pak Guru

Kami menikmati suguhan yang disediakan sambil menunggu kedatangan yang lain. Yang sebagian besar naik kereta dari Jakarta. Ada juga yang naik motor dan mobil pribadi.

Kerupuk kulit ikan salmon

Salah satu suguhan yang tersedia adalah kerupuk kulit ikan salmon dan pie susu. Dua jenis makanan ini kiriman seorang teman dari Bali. Ia sangat rajin mengirim-ngirim makanan jika ada acara kumpul-kumpul seperti ini. Terima kasih ya teman atas kirimanya. Semoga diberi ganti yang lebih banyak dan barokah oleh Allah SWT.

Selain itu ada juga teman yang membawa tape uli, kue Bugis dan kue apem. Rengginang juga ada. Teronggok manis di dalam toples. Kalau yang ini kesukaan saya. Jadi saya saja yang bolak-balik mencomotnya.

Rengginang

Tak lama kami dikejutkan dengan kedatangan dua guru rela yang rela datang dari jauh. Kami segera mempersilakan mereka masuk. Suasana sedikit hening karena segan mau berhahahihi. Ada bapak guru soalnya dihadapan kami. Apalagi dua guru ini jarang kami temui kecuali acara-acara tertentu semisal reuni akbar.

Foto bersama bapak guru yang sudah hadir

Acara selanjutnya mendengarkan kisah perjalanan karir bapak guru setelah tidak mengajar di sekolah kami lagi. Ada yang mendapat tugas sampai ke Bengkulu dan Singapura. Ada juga yang mengajar di sekolah yang memiliki murid berkebutuhan khusus.





Senin, 04 Maret 2019

Melalui Pertunjukan Teater Berbahasa Daerah Oryza Basaloka Mengajak Kita Peduli Bahasa Daerah

Diawali dengan beberapa kata sambutan oleh Mba Ji (begitu ia biasa dipanggil), pementasan teater rakyat Oryza Lokabasa yang menyuguhkan cerita rakyat dari berbagai daerah ini dimulai.


Penampilan pertama berupa cerita rakyat dari Bali yang berjudul "Jayaprana dan Layonsari." Kisah tentang seorang anak laki-laki bernama Jayaprana yang diangkat oleh Raja Kalianget untuk menjadi abdi dalem kerajaan. Raja begitu menyayanginya karena ia pintar, rajin dan tekun. Lalu raja pun menawari Jayaprana untuk memilih dayang-dayang istana sebagai istri. Tetapi Jayaprana menolak. Ia ingin mencari gadis biasa saja.

Pementasan cerita Jayaprana dan Layonsari

Singkat cerita Jayaprana bertemu dengan gadis pilihannya ketika berada di pasar.  Gadis itu bernama Layonsari. Mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Raja yang melihat kecantikan Layonsari merasa tertarik dan ingin memilikinya. Sejak itu dengan segala cara raja hendak memisahkan keduanya. Bahkan raja memerintahkan untuk membunuh Jayaprana. Hingga akhirnya Jayaprana berhasil dibunuh. 

Layonsari yang mendengar berita ini merasa sedih. Apalagi tak lama raja berniat menjadikan ia istrinya. Ia pun memiliki keyakinan bahwa suaminya dibunuh atas perintah raja. Daripada menjadi istri raja lebih baik mati. Maka Layonsari pun memilih bunuh diri menyusul suaminya, Jayaprana.

Pementasan cerita Roro Mendut

Itu cerita pertama pementasan teater rakyat Oryza Lokabasa. Penampilan kedua berupa cerita rakyat dari Jawa Tengah yaitu Roro Mendut. Tentu kita semua sudah banyak yang mengetahui tentang kisah cinta Roro Mendut dengan Pronocitro yang  juga berakhir dengan kematian. Bagaimana Roro Mendut yang harus berjualan rokok karena dikenai pajak tinggi akibat menolak diperistri oleh Tumenggung Wiraguna. Kemudian bunuh diri setelah Pronocitro terbunuh dalam duel dengan Tumenggung Wiroguno.

Band OL

Sebelum dilanjutkan dengan penampilan ketiga dan keempat, para penonton dihibur dengan lagu-lagu daerah oleh band pengiring. Penonton pun merasa terhibur dan ikut berdendang mengikuti irama musik yang bertalu. Setelah itu mulailah penampilan berikutnya berupa pementasan cerita rakyat dari Sumatera Barat yakni Malin Kundang. Dan cerita rakyat Jawa Barat yaitu Sangkuriang.

Cerita Malin Kundang dan ibunya

Cerita ini pun tentu sudah tak asing lagi bagi kita semua. Namun sangat menarik dan asyik dinikmati. Sebab semua dialog yang digunakan berupa bahasa daerah sesuai daerah asal cerita.

Cerita Sangkuriang

Ini pementasan teater yang menurut saya sangat bagus. Komunitas Oryza Lokabasa berhasil menghidupkan kecintaan terhadap bahasa daerah kepada generasi muda. Dan ini perlu didukung dan diapresiasi.


Komunitas yang berdiri tahun 2013 ini sudah beberapa kali menyelenggarakan pertujukan. Dan dengan lokasi pementasan yang berbeda-beda. Pementasan kali ini berlangsung di Gedung Sapta Pesona. Sebelumnya pernah juga mengadakan pementasan di Galeri Indonesia Kaya.

Swafoto dulu sebelum menonton pertunjukan teater rakyat

Saya yang memang menyukai seni dan budaya tentu saja menyambut dengan gembira pementasan ini. Sejak jauh hari saya kabarkan acara ini kepada teman-teman. Tetapi hanya beberapa teman yang menyambut dengan antusias.

Saya tidak bisa memaksa mereka untuk menyukai bahasa daerah yang mulai pudar. Setidaknya saya sudah berusaha menularkan dan menyadarkan akan nasib bahasa daerah kita. Semoga hal ini bisa menjadi perenungan bagi kita semua. Acung jempol untuk Mba Ji dan kawan-kawan dari Komunitas Oryza Lokabasa. (EP)


Jumat, 25 Januari 2019

Tips Agar Tetap Bahagia Meski Pensiun Menghampiri

PENSIUN. Kata yang bagi sebagian orang momok menakutkan. Begitu mendengar kata pensiun hidup seolah tak memiliki guna lagi. Hati harus ditata untuk siap hidup pas-pasan karena sebentar lagi akan pensiun.

by Solusisupersukses.com

Duh, begitu menakutkannyakah satu kata ini? Pensiun. Ada apa sih denganmu? Eh, dengan pensiun? Sehingga orang merasa khawatir bahkan takut menjalani hidup setelah pensiun. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pensiun artinya seseorang yang sudah berhenti dari pekerjaan karena faktor umur. Dalam dunia kerja produktifitas seseorang dibatasi oleh umur. Dan batas umur orang itu dianggap sudah tak bisa produktif lagi sekitar 56-65 tahun .

Pada usia tersebut orang yang bekerja di instansi pemerintah biasanya sudah memasuki masa persiapan pensiun yang biasa disebut juga MPP. Dalam masa-masa inilah mentalitas seseorang diuji. Siapkah ia menghadapi kondisi ini? Berhenti dari rutinitas dan berkurangnya sumber pendapatan.  

Nah, sumber pendapatan inilah yang kerap membuat kepala berdenyut-denyut alias pusing. Baik orang yang bersangkutan atau orang-orang disekitarnya alias keluarga. Tak heran jika melihat orang yang sudah pensiun kondisinya lebih tua, lebih lemah dari biasanya. Sebentar-sebentar jatuh sakit. Sebab tanpa disadari, mereka memikirkan kondisinya setelah pensiun nanti. Mau bagaimana dan akan seperti apa?

Akibat terlalu keras nemikirkan hal-hal yang belum terjadi, tubuh menjadi lemah. Hal ini jadi memudahkan penyakit untuk menghinggapi. Tubuh tua dengan banyak pikiran perpaduan klop untuk membuat seseorang drop.

Lalu bagaimana supaya tidak merasakan hal demikian? Berikut ini beberapa tips yang bisa dilakukan agar tetap bahagia meski pensiun menghampiri.

1 . Bersyukur

Kok? Iya. Bersyukurlah. Karena bisa berkarya dan bermanfaat bagi orang lain sampai waktu yang ditetapkan. Coba kita ingat-ingat lagi. Pasti ada di antara rekan kita yang terpaksa pensiun dini akibat musibah yang dialami. Membuatnya cacat dan tak mampu bekerja lagi. Dari sini kita pantas bersyukur menjalani pensiun dalam kondisi sehat. Bersyukur lainnya, dengan pensiun ini berarti kesempatan kita untuk beribadah jadi lebih banyak dibandingkan saat masih aktif bekerja. Apalagi yang kita cari di usia senja selain menunggu panggilan dari sang pemilik hidup. Jadi manfaatkan kesempatan ini untuk lebih giat lagi beribadah.

2 . Berolahragalah

Yah, olahraga. Manfaatkan waktu luang yang ada untuk berolahraga. Jangan banyak termenung dan berpikir keras. Olahraga akan membuat tubuh kita bugar. Dengan demikian pikiran pun menjadi fresh. Kalau pikiran fresh, tenang dan rileks. Akan muncul ide-ide kreatif yang tidak kita duga. Dalam kondisi tubuh yang bugar, niscaya banyak hal-hal positif yang ingin kita lakukan. Seperti muda kembali. Dan ini memberi efek bagus bagi diri orang tersebut. Yang utama, dengan tubuh yang bugar urusan ibadah pun lancar.

by Pink korset.com

3 . Selalu Semangat

Ketika ide-ide kreatif bermunculan. Hadapilah dengan penuh semangat. Diskusikan dengan keluarga. Apapun itu dan entah seperti apa wujud ide yang muncul, bersemangatlah. Maka akan ada jalan terbentang yang tak terduga. Jangan pesimis karena merasa sudah tidak muda lagi. Muda itu ada dalam jiwa kita. Usia hanyalah bilangan angka. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Kreativitas tidak dibatasi oleh usia.

4 . Diskusi Dengan Keluarga

Keluarga merupakan orang-orang terdekat kita. Mereka tentu merasakan imbas dari masa pensiun yang kita hadapi. Maka berdiskusilah dengan mereka tentang kondisi saat ini. Utarakan secara gamblang kondisi yang akan dihadapi setelah pensiun. Bagaimana mengatasi pos-pos kehidupan yang masih memerlukan biaya banyak. Tak dipungkiri, pensiun itu memangkas sebagian besar pemasukan bulanan kita. Bagi yang masih memiliki penghasilan meski sedikit patut disyukuri. Bandingkan dengan mereka yang tak memiliki  apa-apa. Apa tidak lebih menderita dibanding kita? Beri pengertian kepada orang-orang di rumah untuk siap menghadapi segala kemungkinan. 

5 . Perbanyak Silaturrahmi

Saat masih bekerja, waktu kita benar-benar terbatasi. Mau ke mana-mana terbentur waktu. Begitu pensiun, manfaatkan waktu longgar kita untuk pergi bersilaturrahim. Selain bisa mempererat kekerabatan. Silaturrahim bisa menjadi pembuka pintu rezeki dan peluang-peluang baik lainnya. Karena salah satu manfaat silaturrahim adalah menambah rezeki.

by Persyadha.org

6 . Buang Perasaan Malu

Jika memiliki ide untuk membuka usaha, wujudkan. Atau mendapat tawaran pekerjaan yang tidak seperti dulu lagi, terimalah jika merasa sanggup. Karena boleh jadi itulah pintu rezeki yang Allah berikan. Jangan malu atau minder. Perasaan tersebut jika diikuti bisa membelenggu kita. Mau begini malu. Mau begitu malu. Sementara kebutuhan hidup masih banyak yang harus dipenuhi. Sekali lagi, buang perasaan malu. Selama yang kita kerjakan itu halal. Kenapa tidak? 

by pixabay.co

7 . Realistislah

Bagi mereka yang memiliki banyak tabungan. Investasi di mana-mana. Harta tak terhitung. Pensiun bukanlah masalah berarti. Ia tetap bisa menikmati hidup seperti biasa. Tetapi bagi mereka yang tak memiliki apa-apa, pensiun ibarat kiamat kecil. Yang bisa mengguncang kestabilan hidup berumahtangga bila keimanan tak kuat. Di sinilah realita kehidupan harus dihadapi dengan lapang dada.

Bergerak dan berusahalah sekuat kemampuan dengan niat untuk menghidupi keluarga. Barengi dengan ikhiikh. Doa yang tak lelah dipanjatkan niscaya akan didengar oleh Sang Khalik. Ada keluasan rezeki bagi kehidupan kita ke depan yang tak terduga. Orang Jawa bilang, "Gusti Allah Mboten Sareh."

Demikian beberapa tips yang bisa dilakukan ketika pensiun menghampiri. Jadi, pensiun? Jangan takut! (EP)


Larindah, 2019

Note: Tulisan senada pernah dimuat sebagai artikel utama di kompasiana.com/Denik13


#tips
#lifestyle
#bloggerlifestyle
#bloggerinspiratif





Senin, 14 Januari 2019

Kala Cinta Menggoda Menggelitik Hati Berjumpa Guruh Soekarnoputra

Memang serba salah rasanya
Tertusuk panah cinta
Apalagi aku juga ada pemiliknya
Tapi kutak mampu membohongi hati nurani
Kutak mampu menghindari
Gejolak cinta ini

Maka maafkan jika ku mencintaimu
Atau biarkan ku mengharap
Kau sayang padaku

(Kala Cinta Menggoda by Chrisye)

Teman-teman penikmat musik tentu tahu dong dengan lagu di atas? Salah satu lagu hits yang dibawakan oleh Chrisye. Tetapi tahu tidak siapa penciptanya? Mungkin tak banyak yang mengetahui ya kalau lagu tersebut diciptakan oleh Guruh Soekarnoputra.

Guruh Soekarnoputra yang putra bungsunya Bung Karno? Presiden RI pertama itu? Iya, benar. Bung Karno dari pernikahannya dengan Ibu Fatmawati dikaruniai lima orang anak. Mereka adalah Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputra.

Nah, Guruh Soekarnoputra inilah yang bakat seninya sangat menonjol. Hingga dikenal sampai saat ini dengan karya-karyanya. Baik berupa seni tari maupun seni musik. Bakat yang diturunkan oleh kedua orangtuanya. Kita semua tentu tahu bahwa Bung Karno adalah pencipta seni. Dan Ibu Fatmawati seorang penari hebat. Guruh mewarisi keduanya.

                                              
Bersama Guruh Soekarnoputra

Saya pengagum Bung Karno. Tetapi bukan berarti saya pemuja semua hal yang terkait dengan Bung Karno. Termasuk keluarganya. Rasa kagum saya terbatas pada sepak terjangnya orang tersebut. Karenanya tak sebatas kagum dengan satu orang. Tapi banyak. Tergantung kiprahnya.

Khusus untuk Guruh Soekarnoputra ini saya mulai kagum ketika melihat pagelaran tari dan musik dari Swara Mahardika dan GSP. Dua nama yang digawangi oleh Guruh Soekarnoputra. Selanjutnya ketika mendengarkan beberapa lagu Indonesia yang buat saya menarik sekali. Pertama kali itu ketika mendengar soundtrack film Gita Cinta Dari SMA yang dibintangi oleh Rano Karno dan Yessi Gusman.

Dua sejoli menjalin cinta
Cinta bersemi dari SMA
Galih dan Ratna mengingat janji
Janji setia...setia abadi

Oh, Galih. Oh, Ratna
Cintamu abadi
Wahai Galih, Duhai Ratna
Tiada petaka merenggut kasihmu

Wah, teman-teman pasti enggak asing dong dengan lirik lagu di atas. Begitu populernya film tersebut, sampai-sampai nama Galih itu pasangannya ya Ratna. Kalau ada yang memiliki nama Galih, pasti kerap digodain, "Ratnanya mana?" Atau sebaliknya, "Ratna, Galih dimana?" Kalau yang paham film tersebut pasti senyum-senyum mendengar candaan semacam itu. Kalau yang tidak paham ya sudah. Bengong aja sambil mikir sendiri, "Apaan sih yang mereka omongin?"

Ketika melihat atau mendengar sesuatu yang menurut saya bagus. Biasanya saya mencari tahu siapa penciptanya. Kagum saja. Kok bisa berkarya sebagus itu. Begitu mengetahui lagu soundtrack di atas karya Guruh, saya mulai menanti-nanti karyanya lagi. Dan Chrisye menjadi penyanyi yang paling banyak membawakan lagu ciptaan Guruh. Kebetulan juga Chrisye sebelum bersolo karir merupakan vokalis dari grup Gpisy bentukan Guruh. Pada saat bersolo karir banyak lagu-lagu Chrisye yang merupakan hasil kolaborasi dengan Guruh. Seperti lagu Anak Jalanan, Kala Sang Surya Tenggelam, Kala Cinta Menggoda, Setia dan Zamrud Khatulistiwa.

Pada lagu Kala Cinta Menggoda saya mulai berkhayal bisa berjumpa dengan penciptanya. Suka saja. Bisaan iih menciptakan lirik lagu macam itu. Lagunya gue banget soalnya...hihihi. Saat itu sih. Namanya juga masih ABG. Ya begitulah. Dan namanya berkhayal bebas saja toh. Meski saya sadar betul bahwa sangat sulit menjumpai orang macam Guruh Soekarnoputra. Tidak bisa sembarangan maksudnya. Tapi saya yakin suatu saat bisa bertemu. Entah kapan sih. Berharap saja dan biarkan semesta yang mengaamiinkan.


Suasna pesta di kediaman Guruh

Daaaan... khayalan serta mimpi itu terwujud juga akhirnya pada 13 Januari 2019. Awalnya saya tak percaya ketika dikabari kalau saya bersama Sahabat Budaya Indonesia diundang ke ulang tahun Guruh Soekarnoputra. Guruh? Guruh? Kata hati saya tak percaya. Senang sudah pasti. Meski tak terbayang apakah bisa foto berdua dengan bebas. Mengingat siapa Guruh Soekarnoputra itu dan bakal seperti apa suasananya.

Begitu tiba pada hari H-nya, saya tak terlalu berharap banyak lagi. Bisa tiba di sini, di acara ini sudah satu kesyukuran tersendiri buat saya. Jadi kalem saja. Tak perlu berebut dengan para wartawan dan kru televisi yang datang sebagai bagian dari pekerjaan. Duduk saja jadi tamu yang manis. Tetapi Allah itu memang maha baik kok. Bersama Sahabat Budaya Indonesia saya justru mendapat kesempatan masuk ke dalam rumah sampai ke dapur-dapurnya. Mau motret bagian dalam rumah sepertinya tak sopan. Padahal kapan lagi bisa ke sini? Jadi ya sudah ditahan saja. Fokus saja pada yang sedang berulang tahun. Yaitu Guruh Soekarnoputra. Karena sudah berhadapan dalam suasana santai maka tak saya sia-siakan kesempatan tersebut.

Saya ucapkan selamat ulang tahun. Berbincang sebentar. Dan foto bersama tentunya. Tak lama para tamu undangan yang dari kalangan artis dan pejabat negara datang menghampiri. Belum lagi kerumunan wartawan. Saya pun segera melipir mencari tempat duduk yang nyaman. Yang bisa dengan bebas melihat tamu datang. Dalam hati bergumam, "Ya ampun. Dulu hanya melihat di televisi acara-acaranya pejabat dan orang penting negeri ini. Sekarang menjadi bagian dari semua itu. Ya, Alhamdulillah."

Bayangan kedua orang tua pun berkelebat. Bisa saya bayangkan bagaimana senangnya perasaan mereka ketika mengetahui anaknya pergi menghadiri undangan ini. Berkumpul dengan orang-orang hebat dan penting negeri ini. Orang tua pasti merasa bangga. Sayang mereka tak bisa menyaksikan semua ini. Meski begitu saya tak putus berucap syukur, "Terima kasih ya Allah. Telah memberi saya kesempatan langka dan istimewa ini." Terima kasih Sahabat Budaya Indonesia. Dan buat teman-teman, jangan takut bermimpi. Jangan segan berkhayal. Asal yakin, kelak semua mimpi dan khayalan itu akan terwujud. Yakini itu! (Denik)



Spesial momen
Hing Puri Fatmawati
Ulang tahun Guruh Soekarnoputra

( 13 Januari 2019 )


Rabu, 09 Januari 2019

Tampil Percaya Diri Berkat "Menulis dan Nge-Blog"


Kamu pemalu? Minderan? Mau apa-apa takut salah. Takut ditertawakan. Tetapi kamu memiliki banyak ide, gagasan dan uneg-uneg yang ingin disampaikan? Jangan dipendam. Nanti bisa bikin stress dan bisa jerawatan loh! Weh, apa hubungannya? Iya, kan hasrat untuk mengungkapkan gagasan terpendam. Tidak terlampiaskan. Makanya jadi jerawat. Solusinya mudah saja. Menulislah! Dijamin semua perasaan tadi akan hilang. Yang tinggal hanya rasa percaya diri.

Kalimat di atas bukan slogan semata atau sekedar kata-kata pembangkit semangat. Tetapi ungkapan tulus dari hati paling dalam, milik seorang blogger dan penulis pemula yang mewarnai dunia kepenulisan serta dunia perbloggeran di tanah air. Dan orang itu adalah saya.

Blogger. Kata yang sejujurnya tidak terlalu familiar di telinga saya. Berbeda dengan kata penulis. Nama-nama penulis terkenal dengan karya-karyanya bisa luar kepala saya mengingatnya. Mungkin karena salah satu kegemaran saya adalah membaca. Sementara blogger dengan blognya, tak satu pun saya ketahui sebelum saya tercebur menjadi seorang blogger.

My passion

Awal Mengenal Blog

Pertama kali mengenal blog itu sekitar tahun 2015 awal. Itu juga karena "insiden." Yah, insiden tertinggalnya buku coret-coretan di rumah. Ceritanya waktu itu saya mau mengisi liburan dengan menginap di rumah kawan yang sudah lama tak bertemu. Begitu tiba di rumahnya dan menyadari bahwa saya tak membawa buku coret-coretan, rasanya ada yang hilang. Saya ceritakan hal ini pada si kawan. Dia tahu bagaimana perasaan saya. Karena kemana-mana saya tak lepas dari buku tersebut. Kawan saya sampai menyebut buku itu kitab suci kedua saya.

Melihat saya yang sudah hilang mood, akhirnya si kawan ini berujar, "Bikin blog aja sih. Lo bisa tetep menulis meski enggak bawa kitab suci kedua Lo itu. Enggak bakalan hilang tuh tulisan selama Lo ingat passwordnya. Cuma ya gitu? Begitu Lo publish tuh tulisan. Orang sejagad raya ini bisa baca."

Wuduh, enggak bisa sembarang menulis nih pikir saya. Tetapi daripada enggak menulis, boleh juga tuh saran si kawan. Akhirnya saya pun membuat sebuah blog. Itulah pertama kalinya saya ngeblog. Tulus, lurus ingin berbagi pengalaman dan kisah serta motivasi melalui tulisan.

Tetapi blog itu hanya sekali saya isi dengan sebuah artikel. Selebihnya kembali ke buku coret-coretan dan sesekali mengirimkannya ke majalah atau media cetak lain. Saat itu lebih seringnya berupa puisi atau cerpen.

Alasan Tertarik Menulis di Media Cetak
Saya senang menulis sejak sekolah dasar. Tetapi tidak terlintas untuk menjadi seorang penulis suatu saat nanti. Menulis ya menulis saja. Pelampiasan saya ketika kesal dengan seorang kawan, tidak suka dengan cara guru mengajar dan protes terhadap keadaan sekitar yang tidak sesuai dengan kata hati ini. Berhubung saya tidak suka protes langsung. Atau tampil di depan kelas menyampaikan gagasan yang ada. Akhirnya menulis itu cara saya mengungkapkan semua.

Pada saat duduk di bangku sekolah menengah pertama saya mulai memberanikan diri mengirim tulisan ke majalah remaja. Pertama ingin berkontribusi terhadap tema yang diajukan. Kedua ingin orang lain tahu bagaimana pendapat dan gagasan yang saya ungkapkan, tanpa perlu saya tampil ke depan memperlihatkan diri. Bahasa lainnya "ogah dikenal. Senang dibalik layar."

Maka begitulah, beberapa majalah remaja dan koran ibu kota menjadi pelampiasan saya dengan opini atau puisi. Dan saya menikmati itu tanpa perlu orang tahu siapa saya.

Kawan Difable Membawa Saya Terjun ke Dunia Blogging

Media sosial terutama Facebook membuat saya mengenal banyak kawan di dunia maya. Salah satunya seorang kawan penyandang disabilitas. Kami berkawan cukup erat meski berbeda provinsi. Saya sempatkan diri mengunjunginya jika kebetulan bertandang ke daerah sana. Sehingga saya tahu persis bagaimana kehidupannya.

Satu ketika saya mendapatkan info mengenai lomba blog yang bertema "Ramah Difable." Karena merasa tidak aktif menulis di blog dan jujur buta tentang gini gitunya blog, maka saya abaikan info tersebut. Tetapi temanya kok menggelitik hati untuk menuangkan semua mengenai semangat yang dimiliki oleh kawan saya yang disabilitas itu. Menurut saya sangat perlu diketahui oleh masyarakat tentang kehidupan seorang disabilitas. Maka atas persetujuan si kawan, saya pun mantap mengikuti lomba tersebut dengan latar kehidupan si kawan ini.

Setelah mengirimkan tulisan di blog tersebut, saya beraktifitas seperti biasa. Bekerja, jalan-jalan dan menulis diary. Beberapa bulan kemudian saya dikejutkan dengan masuknya sebuah email yang mengabarkan bahwa saya menjadi salah satu pemenang lomba blog "Ramah Difable." Wow...ini sungguh kejutan luar biasa bagi saya. Bukan semata karena kemenangan yang saya peroleh. Tetapi senang karena tulisan saya mendapat apresiasi. Ini artinya tulisan saya bisa menginspirasi orang banyak.

Sejak itu saya mulai rajin menulis di blog meski tak ada kompetisi. Menulis untuk kebaikan. Segala hal saya tulis di blog. Tentu saja yang dirasa bermanfaat untuk orang yang membaca nya. Jadi bukan berupa curhatan atau puisi yang biasa saya tulis.

Suatu hari tertantang untuk mengikuti lomba blog yang diadakan oleh penerbit besar. Selain tertarik dengan temanya, juga sebagai uji nyali bagi diri sendiri. Mengingat itu tuh penerbit besar yang pastinya diikuti oleh para penulis dan blogger hebat. Karena ada kebanggaan jika bisa lolos kompetisi di sana. Sementara saya mah siapa atuh?

Tak disangka-sangka, ternyata saya lolos menjadi salah satu pemenang. Ini pencapaian luar biasa bagi saya. Sejak itu meski gaptek dalam urusan blog, saya dengan percaya diri bisa menyebut diri sebagai seorang blogger. Yes, I am a blogger, now.

Momen Spesial Menjadi Seorang Blogger

Periode tahun 2016 - 2017 tahun-tahun dimana saya aktif menulis di blog. Mulai bergabung dengan komunitas blog. Mendatangi setiap event-event yang menarik hati, dengan atau tanpa undangan. Tujuannya untuk menuliskannya di blog. Dalam beberapa event, saya sering berbarengan dengan wartawan dari media cetak dan online meliput suatu kegiatan. Ketika ditanyakan dari media mana, dengan mantap saya jawab kalau saya blogger. Tanpa menyebut komunitas yang saya ikuti. Karena saya hadir memang bukan atas nama komunitas melainkan individu yang mencari berita untuk mengisi blognya.

Alhasil saya sempat bertemu dan berbincang-bincang dengan beberapa penulis terkenal. Tokoh masyarakat. Momen yang spesial adalah bisa bertemu dengan walikota Tangerang tempat saya tinggal. Dan eyang Sapardi Djoko Damono. Tahu dong siapa beliau? Semua itu hanya dengan satu sapaan, "Saya blogger. Bolehkah berbincang sebentar untuk bahan tulisan saya di blog?"

Jika dulu saya hanya bisa melihat orang-orang hebat tersebut melalui layar kaca. Kini bisa berdampingan langsung dengan mereka. Saya yang awalnya malas dan malu menghadapi orang banyak, karena ngeblog menjadi percaya diri menemui orang-orang hebat tersebut. 

Bersama walikota Tangerang

Bersama Eyang Sapardi Djoko Damono

Keluar Negeri Berkat Nge-Blog

Bisa jalan-jalan keluar negeri harapan hampir semua orang. Termasuk saya. Meski tak terbayang bagaimana caranya. Bisa mengunjungi batu caves di Malaysia adalah salah satu impian saya. Dan ternyata impian itu terwujud ketika saya bergabung dalam komunitas Blogger Muslimah. Sungguh tak percaya hal ini bisa terwujud begitu cepat. Tahun 2018 merupakan tahun yang luar biasa dalam hidup saya sebagai seorang blogger.

Memang sih saya bukan seorang blogger cetar macam. Nodi Harahap yang kiprahnya bisa kalian intip di sini www.nodiharahap.com

Duh, jauhlah. Apalah saya dibandingkan dengan mereka. Saya masih harus belajar banyak. Secara pribadi pencapaian ini luar biasa sekali. Sebagai cambuk untuk terus menulis dengan lebih baik lagi.

Trip to Malaysia

Berkat Nge-Blog Bisa Tampil Percaya Diri

Dari seringnya bertemu wartawan dari berbagai media ketika meliput acara, saya pun mengenal salah satu wartawan online di Tangerang. Kami pun bertukar nomor kontak dan saling sharing informasi. Saya pun berbagi informasi mengenai tulisan saya di blog. Ketika mengetahui kalau saya menerbitkan buku solo, ia yang juga tergabung dalam Dewan Kesenian Tangerang memutuskan untuk membedah buku saya.

Sebagai penulis pemula, ini merupakan apresiasi luar biasa bagi saya. Menjadi pembicara di antara seniman-seniman hebat Kota Tangerang. Saya yang awalnya tidak suka tampil di depan umum semacam ini, mau tidak mau. Suka tidak suka ya harus maju dan tampil percaya diri.

Flyer


Suasana di Dewan Kesenian Tangerang sebelum sesi beda buku

Tak hanya itu, dalam beberapa kesempatan saya didaulat untuk membaca puisi dan memberi motivasi kepada adik-adik. Jika dikilas balik, tampil di depan umum itu bukan "gue banget." Tetapi alur kehidupan membawa saya pada tahap ini. Saya pun jadi meyakini bahwa "Setiap tulisan akan menemukan jalannya." Seperti inilah contohnya.

Harapan di Tahun 2019

Di tahun yang baru ini harapan saya sebagai seorang penulis pemula dan seorang blogger inginnya bisa terus konsisten dalam menulis. Lebih meningkat kemampuan menulisnya. Dan lebih bermanfaat lagi apa-apa yang saya tulis.

Khusus untuk urusan blog, sepertinya saya harus mencari guru atau partner yang bisa mengajari Nge-Blog dengan oke. Tentu saja seorang guru yang sabar sekali. Mengingat sudah tidak muda lagi. Banyak yang harus diurus dan dipikirkan (alasan). Pastinya tak secepat anak-anak muda nih daya tangkapnya.

Eits, meski begitu semangat juangnya tinggi kok. Jadi tak malulah menambah ilmu ke sana-sini. Apalagi mencari ilmu itu tak mengenal usia. 

                                   
I am a blogger muslimah

Dari semua peristiwa yang terjadi dan saya alami, terutama dalam bidang kepenulisan. Saya merasa bersyukur telah mengalami "insiden" ketinggalan buku. Jika tidak begitu mungkin sampai sekarang. Di era yang serba digital, saya tak mengenal apa itu blog. Masih asyik berkutat dengan "kitab suci kedua."

Meski sampai sekarang belum bisa lepas dari "kitab suci kedua," setidaknya dunia blogging menambah wawasan dan cakupan saya dalam menulis. Membuat saya tampil percaya diri tanpa harus keluar masuk salon. Banyak hal yang saya dapat melalui blog. Tanpa harus membandingkan diri dengan orang lain. Jadi diri sendiri saja. Sehingga dengan bangga bisa berseru, "I am a blogger muslimah." (Denik)


Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog Nodi yang info lengkapnya bisa klik di sini www.nodiharahap.com

#KompetisiBlogNodi
#NaraBlogEraDigital

Selasa, 08 Januari 2019

Cerdas Berkendara Bersama RDL

Dahulu pengendara sepeda motor itu bisa dihitung jari. Apalagi pengendara mobil. Hanya orang-orang dengan keperluan khusus yang biasanya keluar dengan berkendaraan pribadi. Dan orang-orang tertentu juga. Tidak seperti sekarang ini. Kendaraan bermotor dan juga mobil sudah tak terhitung jumlahnya. Tak hanya orang dewasa, anak usia sekolah dasar bahkan sudah berani berkendara di jalan.

Kecelakaan akibat kecerobohan pengendara motor membuat saya tertarik mengikuti Rifat Drive Labs yang diadakan oleh salah satu perusahaan ojek online. Perusahaan ini memberikan pelatihan kepada drivernya. Bertempat di Bandar Udara Pertamina/PT Pelita Air Service, Pondok Cabe.

Saya yang awalnya hanya mengantar adik yang diharuskan mengikuti kegiatan ini dari perusahaan, akhirnya ikut bergabung juga karena merasa pelatihan ini sangat bermanfaat. Apalagi saya juga dalam aktivitas sehari-hari kerap mengendarai motor juga. Jadi merasa wajib menambah ilmu dan wawasan terkait berkendaraan yang baik dan benar.


Tentang RDL

RDL adalah singkatan dari Rifat Drive Labs. Pelatihan atau training tentang mengemudi milik Rifat Sungkar. Tahu dong siapa dia? Pembalap nasional yang prestasinya di dunia balapan internasional tak perlu diragukan lagi. Delapan kali memenangi kejurnas reli. Dan pada tahun 2006 mendapat penghargaan "Bintang Prestasi." Kepeduliannya terhadap dunia otomotif membuatnya mendirikan sekolah mengemudi Rifat Driving School.

Tetapi yang saya ikuti beberapa waktu yang lalu bukan schoolnya. Melainkan pelatihannya yaitu Rifat Drive Labs. Di sini kita diberikan penjelasan mengenai segala hal tentang mengemudi. Berhubung pelatihan ini diperuntukkan bagi para drivers ojek online. Maka materi yang diberikan mengenai tata cara mengendarai motor yang baik dan benar.

 .                                    

Apa dan Bagaimana Mengendarai Motor yang Baik Itu

Pelatihan bersama RDL ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama teori dan sesi kedua praktek. Pada sesi pertama yakni teori, kita diberi penjelasan mengenai beberapa fungsi dan bagian-bagian dari motor. Juga beberapa teknik mengendarai motor yang benar. Serta beberapa video kecelakaan yang diakibatkan oleh kesalahan si pengendara motor.

Ternyata nih ya? Selama ini saya dan mungkin teman-teman keliru menilai tentang rem depan. Saya sih suka enggak berani pakai rem depan. Apalagi kalau sedang kondisi kencang. Takut ngetril. Itu loh...loncat ke depan. Padahal itu tuh ternyata salah. Justru dalam kondisi kencang tiba-tiba kita ngerem belakang, yang terjadi kita akan jatuh akibat roda belakang yang berhenti. Ngepot istilah gaulnya. Apalagi dikondisi jalan yang berpasir. Duh, terbayangkan? Kita jatuh miring lalu tertimpa motor. Begitu yang biasanya terjadi dalam masyarakat. Karena ketidaktahuan fungsi dan penggunaan rem sesungguhnya.


Tidak hanya itu. Kita juga diberitahu posisi duduk yang benar saat mengendarai motor.

1 . Kepala dan bahu tegak lurus menghadap jalanan.
2 . Jari-jari mencengkeram erat stang motor
3 . Lengan bahu agak dilebarkan untuk keseimbangan.
4 . Kaki rapat sejajar

Dulu kalau melihat orang naik motor dan lengannya dilebarkannya gitu saya sebut dia belagu. Padahal itu rupanya yang benar.

Dalam pelatihan ini kita juga diberitahu soal kelengkapan yang wajib digunakan oleh pengendara sepeda motor. Berikut ini beberapa diantaranya:

1 . Helm standar nasional
2 . Sarung tangan yang menutup jari-jari
3 . Sepatu
4 . Jaket
5 . Celana panjang

Urusan sarung tangan masih banyak yang mengenakan sarung tangan terbuka. Termasuk saya. Alasannya simple. Biar bisa ngetik di hp. Padahal itu salah. Kalau ada apa-apa, jari tangan kita tak terlindungi. Repot pastinya kalau ada satu jari saja yang copot.

Begitu juga dengan sepatu. Duh, sering kali melihat mereka yang sandal jepitan saja. Kalau bermotornya cuma diujung gang sih gak masalah. Tapi kalau sudah dijalan raya untuk suatu urusan. Itu yang harus benar-benar diperingatkan.

Acara yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari itu cukup padat materi yang disampaikannya. Benar-benar tak percuma jauh-jauh menjadi pengantar.

Pukul 12.00 WIB peserta dipersilahkan untuk istirahat, salat, dan makan. Untuk urusan makan siang sempat ada kehadiran lucu. Adik saya tidak cocok dengan isi dalam boks yang diberikan panitia. Maka ia memesan go food. Karena untuk keluar mencari makan cukup jauh. Begitu pesanan datang, jadilah adik saya digodain. "Ojol pesan Ojol."

                                    

Praktek di Lapangan

Usai ishoma acara selanjutnya adalah praktek. Artinya kita diajak ke lapangan dan satu persatu melintasi jalur-jalur yang disebutkan. Hampir mirip tes Drive saat membuat SIM.

Disini kita diajari bagaimana cara menikung yang benar. "Bukan menikung mantan loh," ujar si tutor. Bagaimana cara melintasi jalanan yang sempit. Serta bagaimana cara melintasi jalan yang berkelok-kelok.

Sungguh hari yang menyenangkan bagi saya. Mendapatkan ilmu dan wawasan tentang bermotor dengan benar.



Satu hal lagi yang saya dapatkan di sana dan iyes, saya setuju sekali. Yaitu peran orang tua yang sangat besar dan menentukan keselamatan anaknya. Jika kita lihat banyaknya anak-anak usia dini yang sudah mengendarai motor di jalan, itu semua hampir sebagian besar karena andil orang tua. Yang tidak tega mihat anaknya merengek-rengek minta dibelikan motor. Yang merasa bangga anaknya bisa naik motor meski masih kecil. Dan alasan-alasan lain yang sebetulnya bisa ditunda hingga si anak cukup umur untuk membawa motor sendiri.

Tak heran jika terjadi kecelakaan yang diakibatkan oleh kesalahan si pengendara. Selain belum matangnya mental si anak dalam berkendara. Juga karena menyepelekan peraturan serta senang memilih jalan pintas. Artinya para pengendara tersebut berani melawan arus karena ingin cepat sampai atau malas memutar pada jalur yang sudah ditentukan.

"Jalanan itu kejam. Kalau tidak menyenggol ya disenggol."

Maka selalu berhati-hatilah dan waspada. Kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal. (Ep)


Note:

Rifat Drive Labs
(Pelatihan, Agen Konsultan)

Alamat :Jl. KOMPLEK POLRI kav.B9, Jakarta 12930

Phone : (021) 5256560






Selasa, 01 Januari 2019

Beruntungnya Dilukis Temanku Lima Benua

Temanku Lima Benua. Sebuah nama yang terdengar tak biasa di kalangan masyarakat. Tetapi nyatanya ada. Ini adalah nama seorang remaja kelas XI SMAN asal Klaten. Remaja yang murah senyum dan ramah terhadap semua orang. Hal ini yang saya lihat saat pertama kali berjumpa dengannya pada Kongres Kebudayaan beberapa waktu yang lalu di Kemendikbud, Jakarta.

"Silakan! Boleh saya skets? Satu menit saja," sapanya kepada para peserta kongres yang melintas di depannya. Ada yang menanggapinya dengan senyum, ada yang berlalu begitu saja. Saya yang datang bersama founder Sahabat Budaya Indonesia, Romo Mudji dan Prof. Nunus memperhatikan gerak-geriknya yang tetap tersenyum ramah meski ada yang mengabaikan.

Hasil sketsa Liben

Ketika saya dan rombongan melintas didepannya ia ucapkan kata yang sama. Yaitu ingin meng-skets secara kilat. "Sebentar ya? Mau ada yang saya tanyakan dulu pada petugas di sana," kata saya. Ia tersenyum manis sambil mengikuti kami. Kebetulan kami memang sedang mengejar satu sesi acara yang sudah dimulai. Begitu saya tanyakan pada petugas penjaganya, ternyata sudah tidak bisa masuk. Ya, sudah. Akhirnya saya dan rombongan pun tak jadi masuk ruangan. Dan Liben, nama panggilan remaja bernama lengkap Temanku Lima Benua kembali menawarkan diri untuk mengsket kami. Dan kami pun mengiyakan. Maka satu per satu dari kami siap di skets olehnya.

Tanda pengenal Liben

Sambil menunggunya meng-skets saya perhatikan namanya yang unik. Awalnya dikira nama sebuah komunitas, ternyata nama pribadi. Dari situ terjadi obrolan-obrolan ringan tapi seru dan berarti. "Ini nama pemberian Om WS Rendra," ujarnya. "Kok bisa? Apakah kamu anaknya?" tanya Romo Mudji. "Oh, bukan. Ayah saya dan WS Rendra kawan baik. Jadi saat saya dalam kandungan ibu, Om WS Rendra sudah mempersiapkan sebuah nama untuk saya."



"Pantaslah namamu unik. Rupanya pemberian WS Rendra," ujar Romo Mudji. WS Rendra adalah sastrawan besar yang memiliki julukan Si Burung Merak. Siapa yang tak mengenal namanya? Jika Liben, nama panggilan Temanku Lima Benua adalah pemberian WS Rendra, tentu ayah Liben seorang seniman juga. Dan memang benar. Ayahnya adalah seorang pantomim terkenal di daerahnya, Klaten.


Saya pun segera goegling tentang dirinya sebelum tiba giliran di sketsa. Ternyata remaja 16 tahun ini kiprahnya sebagai pelukis wajah sudah tak diragukan lagi kiprahnya. Meski belajar melukis secara otodidak melalui YouTube, tetapi Hasilnya luar biasa. Sudah ratusan wajah ia sketsa. Yang tergres adalah saat ia dengan suka rela meng-skets ratusan atlet dan official dalam ajang Asian Games dan Asian Para Games.


Saya merasa beruntung di skets olehnya. Remaja kelahiran 15 April 2002 yang begitu energik dan peduli terhadap kemajuan bangsanya. Terutama dalam hal seni, budaya dan literasi. Terbukti dari kiprahnya dalam Klaten Biennale 2017.  Libenlah yang mendorong dan menggerakkan kegiatan tersebut sehingga bisa terwujud dan sukses.

Lagi-lagi saya merasa beruntung bisa bertemu dengannya. Dilukis olehnya. Kelak ketika nama uniknya telah mendunia, peristiwa ini akan menjadi kenangan termanis dan tak terlupakan dalam hidup saya. (EP)