Hari Minggu terakhir di tahun 2025 ini saya sejak pagi sudah keliling komplek. Jika biasanya hari Minggu saya pergunakan untuk bermalas-malasan. Namun tidak untuk hari Minggu kali ini.
(Dok. Denik)
Begitu terdengar deru suara motor lalu lalang, saya langsung beranjak dari peraduan. Itu artinya hari sudah siang. Sementara saya harus keluar untuk membeli koran kompas Minggu yang hari ini terakhir terbit. Ya, koran kompas Minggu "pamit" dari peredaran.
Dengan penuh percaya diri saya menuju komplek di mana pak tua loper koran biasa mangkal. Hanya tinggal pak tua tersebut loper koran yang tersisa di komplek dekat rumah. Dulu sebelum era digital seperti sekarang kita masih mudah menemukan loper koran. Tidak seperti sekarang. Sudah sulit. Oleh karenanya saya tandai lokasi si pak tua mangkal.
Begitu tiba di sana saya terkejut, pak tuanya tidak ada. Sebagai gantinya di lokasi tersebut ada gerobak kang Somay.
"Si bapaknya enggak jualan koran, Neng hari ini, " ujar si kang Somay.
Ya, ampun ada saja deh kata saya dalam hati. Jadinya saya mesti keliling ke komplek lain yang saya ingat pernah melihat tukang koran mangkal. Saat tiba di sana dan tukang korannya masih ada berbunga-bunga hati ini.
"Bang, koran kompasnya dua ya? "
"Wah, maaf Bu koran kompasnya habis. Tadi banyak yang nyari juga."
"Hah! Habis? "
Ya ampun. Kemana saya mesti mencari tukang koran lagi nih. Dengan perasaan galau saya pun segera beranjak dari sana. Bingung juga mau cari kemana lagi?
Mau tidak mau keliling dari komplek satu ke komplek lainnya. Tiba di salah satu pintu masuk sebuah komplek ada kemacetan. Saya pikir hanya sebentar karena bergantian dengan kendaraan yang akan keluar.
Ternyata lama. Begitu saya longok rupanya karena adanya pasar kaget. Ah, iya saya lupa. Kalau hari Minggu di situ ada pasar pagi kagetan. Ya, saya memang kaget. Kenapa tadi lewat sini.
Maju susah mundur tidak bisa. Akhirnya hanya bisa sabar. Ikuti saja sampai di mana. Eh, justru di situlah saya mendapatkan koran kompas Minggu.
Ceritanya saya sedang melihat-lihat tukang jualan di sepanjang jalan yang dilalui. Tiba-tiba mata ini menangkap sebuah lapak koran di antara para penjual makanan dan minuman.
Saya pun menepi untuk menuju lapak kota tersebut. Dari jauh saya sudah melihat tulisan kompas. Betapa berbunganya hati ini.
"Koran kompasnya dua ya, Bu."
"Cuma tinggal ini saja Neng. Tumben hari ini banyak yang cari."
Oalah, rupanya saya kalah cepat. Ya, sudah mau bagaimana lagi? Inilah perjuangan saya dalam mendapatkan koran kompas Minggu yang hari ini terakhir terbit.
Perasaan saya campur aduk. Antara senang dan haru. Bagaimana tidak? Koran kompas Minggunya dapat. Tapi untuk mendapatkannya penuh perjuangan. Harus keliling komplek.
Setelah terbit untuk pertama kalinya di tanggal 17 September 1978. Per hari ini 28 Desember 2025 koran kompas Minggu pamit dari peredaran. Tidak terbit lagi seperti biasa.
Catatan:
Tulisan senada tayang juga di Kompasiana/Denik13
Komentar
Posting Komentar