Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label perempuan berkebaya

Sabtu Bersama Oma

Sabtu Bersama Oma. Terinspirasi dari salah satu judul buku karya Adhitya Mulya " Sabtu Bersama Bapak." Saya pun tertarik mengabadikan kebersamaan dengan Oma Stella lewat tulisan di blog.  Mengutip ucapan  Pramoedya Ananta Toer,  "Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. " Dengan semangat itulah saya menulis. Kemudian mengabadikan setiap pengalaman dan peristiwa yang dialami ke dalam bentuk tulisan. Termasuk kebersamaan dengan Oma Stella. Oma siapa? Sejak kapan Lo punya Oma? Elo kan orang Jawa ye? Yang ada Embah kali. Eyang atau nenek. Lagian Lo punya nenek kan udah lama enggak ada." Begitu pertanyaan yang terlontar pada saat saya memposting foto kebersamaan dengan Oma Stella. Mereka yang mengenal saya tentu bertanya-tanya. Siapa Oma Stella itu? Perkenalan dengan Oma Stella Saat itu tanggal 21 April 2019. Saya mendapat undangan untuk menghadiri ...

Masa Depan Bahasa Ibu

Bahasa ibu. Topik pokok dalam seminar "Masa Depan Bahasa Ibu " yang diselenggarakan oleh Yayasan Rancage bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam hal ini Kemendikbud diwakili oleh Prof. Dadang Sunendar, M.HUM. Bertempat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki pada hari Rabu, 26/09/2018 saya mengikuti seminar tersebut. Selain tema yang diangkat cukup menggelitik hati saya untuk mengikuti seminar, pembicaranya pun tokoh-tokoh sastra yang saya kagumi. Ajip Rosidi dan Seno Gumira Ajidarma. Seminar ini merupakan satu rangkaian dari kegiatan Penganugerahan Sastra Rancage 2018. Apaan tuh? Pemberian hadiah yang diberikan oleh Ajip Rosidi selaku pendiri Rancage, untuk sastrawan yang berjasa dalam mengembangkan sastra daerahnya. Ada sastrawan dari Jawa, Bali, Lampung, Batak dan Banjar. Bukankah Rancage...

Mengenalkan Budaya Negeri Kepada Anak-anak Melalui Tutorial Berkain

Indonesia negeri yang kaya akan  budaya dan tradisi. Salah satunya tentang tradisi mengenakan kain tradisional dalam acara-acara tertentu dalam suatu daerah. Dengan keragaman suku yang ada di Indonesia tentu saja menghasilkan keragaman pula dalam hal kain yang digunakan. Seperi suku Jawa yang terkenal dengan kain batiknya. Suku di Sumatera dengan kain songket dan tenun. Suku di Lombok dan wilayah Indonesia Timur lain dengan kain tenunnya. Itu semua merupakan warisan budaya yang patut dijaga dan dilestarikan. Generasi muda adalah pewaris semua itu. Lalu bagaimana nasib budaya negeri ini jika generasi mudanya tak peduli. Jangankan peduli, mengenal saja tidak. Dalam hal ini tentang kain contohnya. Hanya segelintir anak muda yang diperlihatkan sebuah kain, ia bisa menjawab darimana asal kain tersebut. Jika kenal saja tidak? Lalu bagaimana dengan cara penggunaannya. Tentu tidak tahu sama sekali. Miris bukan? Jika akhirnya ...

Kebaya dan Identitas Perempuan Indonesia

Kebaya adalah pakaian lengan panjang sebatas pinggul yang dipadukan dengan kain atau sarung. Bahan dan model yang digunakan bervariasi sesuai kebutuhan. Perempuan Indonesia terutama ibu-ibu pada zaman dulu lebih memilih bahan dari katun untuk dikenakan sehari-hari. Baik yang polos atau pun yang bercorak. Sementara untuk acara resmi biasanya mereka mengenakan kebaya bordir. Adapun jenis kebaya itu sendiri bermacam-macam. Ada kebaya kutu baru, kebaya encim, kebaya kartini dan lain sebagainya. Sedangkan padu padan untuk bawahnya bisa berupa kain batik, tenun atau songket. Semua itu memberi makna bagi keragaman budaya bangsa ini. Kebaya telah dikenakan sebagai pakaian sehai-hari sejak dulu. Mulai dari anak-anak , ibu-ibu dan juga nenek-nenek. Ibu negara dan para ibu pendamping pejabat negara kerap mengenakan kebaya pada saat menghadiri acara kenegaraan. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Namun ketika bangsa Indonesia kedatangan bangsa asing yang kemudian menjajah negeri ini.  ...