Stroke. Penyakit yang selama ini identik dengan orang tua lanjut usia. Lalu bagaimana jika yang mengalami stroke adalah teman kita? Orang yang sehari-hari bercanda dan berkegiatan bareng dengan kita?
Tentu saja kaget. Tidak percaya? Tapi itulah takdir. Jangankan kita temannya. Dia yang mengalami sendiri mungkin lebih kaget. 'Kok gue bisa kena stroke sih?" Padahal merasa makannya enggak macem-macem. Hidup enggak neko-neko juga.
Ya, begitulah hidup. Segala sesuatu bisa menjadi mungkin selama kita masih ada di dunia. Penyakit stroke bisa dialami oleh siapa saja. Kapan saja. Dan tidak melulu akibat pola makan yang salah, gaya hidup yang salah. Bisa juga akibat salah mengkonsumsi obat herbal atau vitamin.
Hal itulah yang terjadi pada my best friend.. Yah, my best friend stroke.
Kronologi Kejadian
Malam itu Jumat, 27 Februari 2026. My best friend mengabarkan lewat Whatsapp kalau suplemen yang ia beli sudah sampai. Ia membeli itu niatnya untuk menjaga stamina tubuh. Sejujurnya aku tidak setuju.
"Olahraga saja dan jaga pola makan. Istirahat yang cukup. Jangan banyak pikiran. Insya Alloh sehat deh. Jangan lupa sering salat malam, " kataku.
Tapi ia ingin mencoba hal lain. Ya, sudah sebagai teman mendukung saja.
"Minumnya besok saja. Karena harus dicampur air, " kataku setelah membaca aturan minumnya. Sementara temenku bilang air minumnya habis. Dia malas keluar untuk beli. Namanya juga anak kost.
Setelah WA-an aku tidur biar besok bisa bangun pagi. Banyak hal yang ingin aku kerjakan. Salah satunya ke bengkel motor.
Esok harinya aku dibuat kesal oleh temanku ini. Ditelpon enggak bisa. Di WA centang satu. Dari subuh sampai zuhur masih sama. Padahal biasanya dia sudah berkabar begitu bangun tidur tentang apa yang ia lakukan, agar tidak bentrok dengan kegiatan di grup.
Untuk diketahui, aku dan temanku ini satu tim di grup drama musikal. Jadi aku kerap mengingatkan. Kapan dan jam berapa harus latihan. Sehingga ia bisa mengatur waktunya cari uang dengan waktu latihan.
Tapi Sabtu, 28 Februari 2026 itu ia tidak ada kabar sampai siang. Akhirnya aku datang ke kostan untuk ambil motor. Motorku ada di tempat dia. Temanku ini kerap pinjam motorku kalau motor dia dipinjam anaknya. Kebetulan pas di tempat dia motornya mogok. Ya, weekend baru bisa aku ambil dan bawa ke bengkel.
Aku tiba di kostan sore pukul 16.00 WIB. Aku dengan menahan emosi langsung naik ke konstannya. Kebetulan pintu tidak dikunci. Aku langsung nyerocos bla bla bla (ngomel) mendapati temanku posisinya tidur miring tapi mata melek. Pikirku dia nyuekin WA dan telpon ku.
"Lo tuh... "
Bla bla bla aku ngomel sambil mengambil kunci motor.
"Enggak usah ikut ke bengkel. Keburu sore. Gue sendiri juga bisa, " kataku.
Begitu aku mau keluar kok temanku tetap diam. Tidak bereaksi. Biasanya kalau aku ngomel dia sudah nyahutin.
"Pak, lo tidur apa enggak sih? Kok diem aja. "
Oiya, aku panggil dia pak awalnya semacam meledek. Secara dia sudah punya anak tiga. Berarti sudah bapak-bapak toh.
Aku hampiri temanku. Kugulingkan badannya biar telentang. Eh, tetap tidak bereaksi. Diam dan menatap dengan pandangan kosong. Perasaanku langsung tidak enak. Kuraba badannya. Tidak panas tapi bajunya basah bau pesing.
Deg. Aku kaget. Berarti dia enggak bisa bangun. Kuangkat badannya dan sandarkan ke dinding. Tapi badannya meleyot. Aku langsung istighfar.
"Ya, Allah. Ini sih stroke."
Aku langsung telpon anaknya. Tidak dijawab. Aku WA tidak dibaca. Aku kabari adiknya di Batam. Belum dibaca. Aku minta tolong temannya temanku di bawah. Untuk membantu mengangkat temanku ini ke bawah untuk dibawa ke rumah sakit. Jawabannya macam-macam. Intinya enggak mau bantu.
Aku langsung tandai dirinya. Aku naik lagi menunggu balasan dari anaknya dan tetangga kostan atas pulang kerja. Sambil menunggu aku ganti pakaian temanku yang basah semua karena pipis. Aku siapkan beberapa baju untuk dibawa ke rumah sakit. Di situ aku melihat botol kecil suplemen yang temanku tunjukkan semalam. Isinya tinggal setengah. Berarti dia minum tanpa dicampur ke air. Astaghfirullah.
Sahur di Rumah Sakit
Temanku tergeletak tak berdaya. Aku menunggu anaknya datang dulu. Walau bagaimana keluarga yang punya hak dan berkepentingan langsung. Dari pukul 16.00 WIB dikabari baru sekitar pukul 20.00 WIB datang. Apapun alasannya aku anggap tidak khawatir dengan kondisi ayahnya.
Setelah berdiskusi akhirnya temanku dibawa ke rumah sakit Pelni. Aku minta tolong tetangga kostan untuk ikut. Untuk membantu pas di rumah sakit. Aku enggak yakin anaknya akan segera menyusul meski bilangnya begitu. Benar saja. Pukul 03.00 WIB dini hari baru tiba di rumah sakit.
Aku sudah terkantuk-kantuk di depan IGD. Menunggu kabar dari dalam. Kapan masuk kamar perawatan. Kata orang-orang di situ bisa lama. Sementara tetangga kostan yang kumintai tolong ikut ke rumah sakit sudah kupesankan Go Car untuk pulang.
Hari itu Minggu, 1 Maret 2026 aku sahur di rumah sakit. Karena berbarengan dengan bulan suci Ramadan. Sedih. Tapi lebih sedih temanku kalau kutinggal pulang. Sendirian di rumah sakit dalam kondisi tak berdaya. Anaknya hanya sebentar menunggui setelah itu pulang.
Ya, sudah. Kuniati menolong teman. Semoga Allah menjagaku senantiasa. Memberikan kesehatan dan kelancaran rezeki. Namanya jaga di rumah sakit butuh tenaga yang kuat dan asupan makanan serta minuman yang sehat.
Bersama beberapa orang yang juga berpuasa. Aku sahur di depan IGD. Minum susu, buah dan roti saja. Malas ke depan untuk membeli nasi. Inilah pengalamanku sahur di rumah sakit. Menunggui teman yang sakit.
Komentar
Posting Komentar