Stroke bukan halangan untuk mengikuti aktivitas seperti biasa. Asal...
Sejak pertama kali bergabung dengan KOMiK Kompasiana, selalu ada momen yang jika direnungkan ternyata spesial dan istimewa bagiku. Momen yang membuat hidupku penuh warna.
Bagaimana tidak? Awal bergabung dengan KOMiK tahun 2018 aku langsung mendapat kesempatan nobar maraton dan kuliner legendaris di daerah Cikini. Nobar maratonnya film yang diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer pula. Keren banget.
Nontonnya di XXI TIM yang hari itu merupakan hari terakhir gedung tersebut berdiri. Mulai besok dan seterusnya tidak bisa dijumpai lagi karena kawasan TIM akan direnovasi total. Sementara kulinernya gado-gado bonbin yang legendaris. Pokoknya serulah.
Ulang tahun KOMiK selanjutnya ada yang dirayakan ada yang tidak dirayakan. Pada ulang tahun ke-12 kali ini ada yang berbeda dan spesial juga. Berbedanya? Kita diajak piknik di alam terbuka. Lesehan menggelar tikar dan membawa makanan sambil bercerita serta bercengkerama.
Spesialnya? Aku mengajak my best friend dalam kondisi berbeda. Dia kompasianer juga. Anggota KOMiK dan Kabaret KETAPELS. Jadi tidak asinglah dia dengan teman-teman. Meski ia tidak terlalu aktif menulis rasanya teman-teman tidak terlalu asing juga sih. Sebab cukup sering mengikuti event offline.
Bedanya, kali ini ia hadir dalam kondisi pasca stroke. Tentu bukan hal mudah baginya untuk bisa beraktivitas seperti semula. Namun mengurung diri di kamar pun bukan solusi terbaik. Harus bisa beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman. Hidup harus terus berjalan meski diri kita bukanlah kita yang dulu lagi.
Sebagai seorang teman yang cukup dekat dengannya dan ia juga dekatnya dengan saya, masa ketika ia sedang terpuruk ditinggalkan begitu saja. Padahal saat sehat saling support dan berbagi kebahagiaan. Jadi harus tetap disupport agar tidak merasa sendirian.
Maka begitulah, di luar pekerjaan seringkali kujemput dirinya untuk menghirup udara luar dan melihat dunia. Sebab sehari-hari hanya terpekur sendiri di kost-kostan.
Bagaimana tidak? Bicara masih sulit dipahami. Jalan masih doyong. Sebab hanya bagian tubuh sebelah kiri yang normal. Bagian tubuh sebelah kanan belum berfungsi dengan baik. Bisa dibayangkan bagaimana perasaannya melihat orang-orang yang lalu lalang dengan aktivitasnya. Sebab ia pernah diposisi tersebut.
Berbekal rasa empati, aku tidak merasa malu atau terbebani mengajak dirinya melihat dunia luar. Membawa dirinya ke tempat yang dulu pernah ia datangi. Salah satunya ke GBK. Tempat yang zaman ia muda seperti rumah kedua. Ia adalah mantan pemain Persija junior.
Kebetulan ulang tahun KOMiK ke-12 diadakan di sana. Aku ajak dirinya bukan sekadar untuk bersosialisasi dengan teman-teman lagi. Tapi juga mengajaknya nostalgia bahwa ia dulu pernah memberikan kebanggaan pada keluarga.
Kalau akhirnya dalam perjalanan hidup karena sebuah kesalahan yang dilakukan membuat keluarga mencampakkan dirinya, alangkah tidak bijaknya keluarganya dalam menyikapi hal tersebut. Tidak ada manusia yang sempurna. Tiap kita pasti pernah melakukan kesalahan.
Aku sebagai teman yang menjadi tempat curhat dirinya berusaha bersikap netral. Tugasku hanya membantu dan berbuat baik kepada sesama. Apalagi ini teman sendiri. Jadi aku bantulah sepol kemampuan. Dengan cara memberi semangat dan berusaha membuat hidupnya penuh warna lagi.
Aku hanya memiliki sepeda motor, jadi kubonceng dirinya dari Tangerang ke GBK. Lumayan jauh. Di jalan berkali-kali aku ingatkan kalau capek atau pegel bilang saja biar aku berhenti dan memberinya minum.
Memasuki area GBK ia berteriak dengan nada tidak jelas. Aku tahu ia merasa senang dan tidak menyangka bisa ke sini lagi setelah kurang lebih 6 bulan terbaring tak berdaya. Begitu motor kuarahkan mendekati arah stadion, aku mendengar suara tangisannya.
Aku hentikan laju motor. Kutepuk-tepuk punggungnya untuk memberinya kekuatan. Padahal hatiku sendiri teriris melihat tangisannya. Aku bisa merasakan apa yang ia rasakan. Ia yang dulu sehat dan gagah kini hanya seorang lelaki yang tak berdaya.
Usai mengenang kemegahan stadion GBK, aku hubungi panitia acara ulang tahun KOMiK. Ada mas Valka yang sudah stand by di lokasi. Juga ada Bram yang menjadi peserta pertama yang hadir. Aku ceritakan kondisi teman KOMiK yang kuajak sekarang. Alhamdulillah semuanya menerima dengan baik. Bisa memahami kondisinya.
Sambil menahan tangis aku katakan pada temanku. "Tuh, mereka baik-baik kan? Jadi jangan merasa sendiri lagi ya?"
Selanjutnya acara piknik pun dimulai. Kita menggelar tikar dan mengeluarkan makanan yang dibawa. Ada donat, salak, bolu, jajanan pasar, cheestick, cilok, moci dan masih banyak lagi. Moci dan donat kacang merupakan favoritku.
Tak lama satu per satu teman KOMiK hadir memenuhi area piknik. Mba Dewi selaku leader KOMiK membuka acara dan menceritakan lika liku selama di KOMiK.
Demikian juga dengan mas Valka dan mba Linda selaku admin KOMiK. Mereka berbagi cerita selama membersamai KOMiK. Ada suka dukanya. Ada pasang surutnya. Namanya komunitas tidak lepas dari konflik dan intrik. Yang penting bagaimana kekompakan admin. Itu kuncinya.
Acara terlihat santai karena sambil lesehan dan menikmati makanan. Namun yang dibahas cukup serius dan membuat kening berkerut. Bolehlah dijadikan renungan bersama. Bahwa komunitas untuk bisa bertahan dan menghasilkan karya butuh dana serta dukungan semua. Tidak bisa ketua jalan sendiri. Kecuali ia beruang.
Namanya ulang tahun pasti bertabur hadiah. Aku mendapat dua hadiah. Tapi aku lupa membawa kado, jadi sebagai hadiah aku bacakan sebuah puisi karya aku sendiri. Eh, aku dapat saweran loh. Ternyata lumayan juga dapatnya. Padahal awalnya sekadar guyon. Aku berikan hasil saweran tersebut kepada temenku.
"Makasih, makasih, " ujarnya dengan perasaan haru sambil mengulurkannya padaku lagi.
Aku jadi terharu juga. Karena ia memang masih belum bisa melakukan transaksi. Belum bisa mandiri sepenuhnya. Semua masih butuh dibantu.
Tak hanya aku. Mba Fara juga membacakan sebuah monolog di ulang tahun KOMiK. Teman-teman yang hadir dimintai pendapat, kesan dan pesannya terkait KOMiK.
Tak terasa waktu pikniknya sudah habis. Kita semua beres-beres membersihkan sampah dan makanan yang masih ada. Yang mau bawa dipersilakan.
Sebelum berpisah kita foto bareng. Mba Mira yang datang dari Purwakarta menjadi fotografer andalan. Dia sih sudah tidak diragukan urusan potret memotret.
Setelahnya kita berpisah. Aku sih yang lebih dulu pamit. Karena masih harus melanjutkan perjalanan ke Kota Tangerang. Kali ini urusan pekerjaan. Kuajak serta my best friend sebab meetingnya agak santai, di sebuah kafe. Ceritanya aku berpindah acara.
Senang bisa menjadi bagian dari ulang tahun KOMiK ke-12 tahun. Senang juga bisa memberikan momen spesial for my best friend. Selamat ulang tahun KOMiK. Tetap semangat untukmu my best friend. (Denik)
Note: Tulisan senada tayang juga di Kompasiana,com/denik13
Komentar
Posting Komentar