Langsung ke konten utama

Koleksi Unik "Stop"

Dari beberapa kolektor yang saya kenal, ada salah satu kawan yang koleksinya itu unik dan lucu menurut saya. Selama ini yang paling sering dijumpai adalah kolektor buku, perangko, koin, uang kuno, kartu pos, sepatu. Lha! Ini? Koleksi STIP atau penghapus. 

Stop atau penghapus aneka bentuk (dokpri)

Saya sempat kaget. Penghapus karet? Macem mana? Setahu saya ya penghapus kan begitu saja. Kotak atau lonjong. Ternyata ada bermacam-macam bentuk dan lucu-lucu sekali. Saya jadi terkesima. 

Rupanya si mba satu ini, sebut saja namanya Arianti. Sudah mengoleksi STIP atau penghapus atau eraser sejak tahun 1980. Dan masih utuh sampai sekarang. Semua koleksinya tertata rapih dalam kotak. Dibedakan sesuai tema. 

Ada tema makanan, binatang, mainan, kendaraan dan lain-lain. Uniknya dari semua koleksi tersebut tidak ada yang sama. Mba Arianti tertarik mengoleksi stip karena melihat bentuknya yang unik-unik. Koleksinya ini didapat dari berbagai tempat. Tidak hanya di Indonesia. Ada juga yang dari luar negeri. Hasil titip atau oleh-oleh. 

Ketika ditanyakan apa manfaat yang didapat dari koleksinya ini? Jawabannya singkat saja. Kepuasan batin. Ya, ada kepuasan batin ketika melihat barang-barang koleksi yang tertata rapih. Rasanya senang saja. Dan tidak bisa dibandingkan dengan apapun. 

Memang begitulah rata-rata jawaban dari seorang kolektor jika ditanyakan tentang barang buruannya. Kebahagiaan itu kan diciptakan. Bukan dicari. Maka ciptakan kebahagiaanmu sendiri. Dengan cara apapun itu. Asal tidak merugikan orang lain. 


#onedayonepost
#februari2017
#harike-11
#koleksiunik















Komentar

  1. koleksi yang menarik ya mbak. :)
    setiap orang pasti punya cara koleksi menarik

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Layar Tancap Dalam Kenangan

Pada suatu hari ketika saya melewati sebuah perkampungan yang sedang menggelar hajatan, ada sebuah pemandangan yang tiba-tiba menggelitik hati. Yaitu layar tancap (layar tancep). Sesuatu yang sudah jarang sekali ditemukan. Apalagi di zaman sekarang.  Dokumen pribadi Padahal beberapa tahun yang lalu layar tancap pernah menjadi primadona masyarakat. Terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah. Dahulu dalam setiap acara hajatan terutama jika masyarakat Betawi yang menggelarnya, layar tancap menjadi sebuah hiburan yang ditunggu-tunggu. Semacam tren mark yang tak boleh dilewatkan. Bahkan bisa menaikkan gengsi si pemilik hajat, bila dilihat dari jenis layar tancap yang disewa. Mabak. Itu salah satu jenis layar tancap yang dianggap paling bagus. Dari tampilan di layar, kejernihan suara dan kualitas gambar yang baik, mabak memang berbeda. Oleh karena itu harga sewanya konon mahal. Tak heran bila si empunya hajatan lantas disebut sebagai orang yang mampu. Sekitar tahun 1990-an ke...

Misteri Pohon Besar di Kalibata City Apartement

Saat saya sedang berjalan-jalan di Kalibata City Apartment, Jakarta Selatan. Pandangan saya tertarik pada sebuah pohon besar di samping belakang apartement. Ukuran pohonnya memang besar sekali. Pikir saya. ”Kenapa tidak ditebang? Bisa bahaya kalau roboh.”  Dokumen pribadi Saya pun iseng menanyakan hal tersebut kepada kawan yang sudah lama tinggal di sana. Jawabannya sungguh membuat merinding bulu kuduk.  “Gak ada yang bisa menebang pohon tersebut. Karena banyak penunggunya. Setiap malam ada saja yang melihat penampakan-penampakan dibawah pohon itu.”  Hiiii...Seram juga ya, pikir saya. “Makanya ada semacam meja kecil diatas pohon itu. Untuk tempat sesajen. Biar penunggunya gak mengganggu orang-orang di sini,” papar kawan saya. Diam-diam ada rasa penasaran dalam hati saya. Seperti apa sih pohon itu jika dilihat dari dekat?  Maka saya pun mendekati pohon tersebut. Memang besar sekali. Terlihat dari batangnya yang besar dan tinggi. Nama pohonnya ternyata pohon mah...

Bentengi Keluarga dari Perilaku Menyimpang dengan Ilmu Agama dan Komunikasi Dua Arah

Maraknya pemberitaan mengenai perilaku menyimpang yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak, membuat hati ini miris mendengarnya. Apalagi saat melihat korbannya (anak-anak) yang masih begitu polos dan lugu, hati dan batin ini ikut menjerit meski bukan keluarga sendiri korbannya. Hukuman yang tidak sepadan dengan akibat yang harus ditanggung oleh si korban, membuat nurani ini berontak. Ingin rasanya menghakimi sendiri para pelaku tersebut. Hukuman mati masih terlalu enak jika mengingat kebiadaban mereka terhadap anak-anak tak berdosa itu. Seharusnya di picis dulu lalu di tembak mati. Itu hukuman yang setimpal bagi mereka. Tetapi hukum yang berlaku tidak seperti itu. Pelaku hanya dijatuhi hukuman kurungan sekian tahun. Untuk selanjutnya bebas dan bisa melanjutkan aksinya kembali. Sementara korbannya menanggung derita dan trauma seumur hidup. Sungguh hukum yang sangat tidak adil. Ketidakadilan seperti ini mau tidak mau me...