Langsung ke konten utama

Postingan

Roy, The Reason I Ride A Bike From Tangerang To Serang

Bersepeda merupakan salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan. Digemari oleh anak-anak dan orang dewasa. Laki-laki maupun perempuan. Saya sendiri belajar mengendarai sepeda ketika duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar. Belajar dari teman-teman, bukan diajari oleh orang tua. Karena saya baru dibelikan sepeda pada saat masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP). Karena jarak sekolah dari rumah lebih jauh lagi dibandingkan saat SD. Namun sejak SD itu saya dan teman-teman sering berkeliling dari satu komplek ke komplek lain. Dari satu kampung ke kampung lain. Dengan berboncengan atau meminjam sepeda teman yang tidak ingin ikut berkeliling. Selama berkeliling dengan sepeda pikiran saya berkelana kemana-mana. Membayangkan kisah-kisah bersepeda dari buku yang pernah saya baca. Buku-buku yang menginspirasi Saya senang membaca. Saat SD buku yang saya baca salah satunya adalah Lima Sekawan. Saya senang sekali membayangkan petualangan-petualangan seru mereka. Dengan mengendarai se...

Kembali Muda Dalam Perayaan 30 Tahun Balada Si Roy

Pada hari Sabtu dan Minggu, 10-11 Maret 2018 yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk menghadiri Perayaan 30 Tahun Balada Si Roy. Sebuah novel remaja era 90-an karya Gol A Gong. Balada Si Roy awalnya adalah sebuah cerita bersambung yang ada di Majalah Hai. Majalah remaja cowok kala itu. Pertama kali dimuat pada 8 Maret 1988. Tanggal itulah yang kemudian dijadikan sebagai hari ulang tahun Balada Si Roy. Cerita bersambung tersebut begitu digemari oleh pembacanya. Baik laki-laki maupun perempuan. Saya salah satunya. Karena merasa bahwa cerita yang ada di Balada Si Roy itu "Gue banget." Siapapun yang membacanya akan merasa kalau sosok si Roy dalam Balada Si Roy itu ya gue banget. Kok bisa seperti itu? Sebab cerita Balada Si Roy berkisah tentang kegelisahan kita para remaja usia SMA yang diwakilkan oleh sosok si Roy itu. Bandel, tidak suka terikat aturan, ingin bebas, senang berpetualang dan melakukan hal-hal baru yang menurut ora...

Dari Happy-happy di Bukittinggi, Hingga Siap Mati diketinggian Demi Sebuah Mimpi

Bukittinggi merupakan salah satu kota wisata di provinsi Sumatera Barat. Di kota ini terdapat Jam Gadang yang sudah sangat terkenal sebagai ikon Kota Bukittinggi. Menunggu pagi di pelataran Jam Gadang menjadi mimpi saya sejak kecil. Untuk itu tentu saja saya harus melakukan perjalanan. Yah, travel makes your dream comes true. Seperti yang bisa disaksikan dalam  www.liputan6.com/tag/ travel. Masalahnya, perjalanan menuju Bukittinggi tinggi itu yang tercepat adalah menggunakan pesawat terbang. Sementara saya sangat takut jika harus bepergian menggunakan pesawat. Entahlah, dalam benak saya naik pesawat itu kok mengerikan ya? Sedangkan untuk menempuh perjalanan darat cukup jauh. Butuh waktu beberapa hari agar bisa menikmati perjalanan di Kota Bukittinggi dengan santai. Membayangkan semua itu rasanya saya hanya bisa bermimpi saja untuk bisa menikmati pagi di pelataran Jam Gadang. Jika harus naik pesawat, nantilah kalau ke...

Pilih Mana? Kondangan di Gedung atau di Rumah

Menghadiri upacara pernikahan atau biasa disebut dengan kondangan, merupakan tradisi didalam masyarakat yang memiliki berbagai keunikan tersendiri. Sesuai dengan kultur dan kebiasaan yang ada di suatu daerah. Ketika saya kecil dan masih lekat diingatan, jika diajak kondangan berarti menghadiri upacara pernikahan di sebuah rumah yang telah dihias sedemikian indah dan menarik. Acaranya pun berlangsung dari pagi hari sampai esok pagi lagi. Melekan orang Jawa bilang. Seiring berjalannya waktu. Ketika saya mulai beranjak besar. Pelan-pelan tradisi kondangan di rumah sudah mulai jarang saya temui, pindah di gedung. Ada yang menggunakan balai desa sebagai tempat menggelar acara hajatan, atau di hotel mewah. Bahkan di restoran. Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Mulai dari kondisi rumah yang tidak memungkinkan untuk menggelar hajatan alias sempit. Sampai faktor tak mau ribet alias memilih serba praktis. Ditambah pertambahan penduduk yang memicu sempi...

Bentengi Keluarga dari Perilaku Menyimpang dengan Ilmu Agama dan Komunikasi Dua Arah

Maraknya pemberitaan mengenai perilaku menyimpang yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak, membuat hati ini miris mendengarnya. Apalagi saat melihat korbannya (anak-anak) yang masih begitu polos dan lugu, hati dan batin ini ikut menjerit meski bukan keluarga sendiri korbannya. Hukuman yang tidak sepadan dengan akibat yang harus ditanggung oleh si korban, membuat nurani ini berontak. Ingin rasanya menghakimi sendiri para pelaku tersebut. Hukuman mati masih terlalu enak jika mengingat kebiadaban mereka terhadap anak-anak tak berdosa itu. Seharusnya di picis dulu lalu di tembak mati. Itu hukuman yang setimpal bagi mereka. Tetapi hukum yang berlaku tidak seperti itu. Pelaku hanya dijatuhi hukuman kurungan sekian tahun. Untuk selanjutnya bebas dan bisa melanjutkan aksinya kembali. Sementara korbannya menanggung derita dan trauma seumur hidup. Sungguh hukum yang sangat tidak adil. Ketidakadilan seperti ini mau tidak mau me...