Langsung ke konten utama

Petuah Pak Tua

Perjalanan itu selain sebagai ujian juga tempat pembelajaran hidup yang nyata. Dari apa yang kita lihat, dengar dan rasakan. Banyak ilmu dan nasihat yang bisa kita dapatkan selama melakukan perjalanan.

Asal kita mau merenungkan dan meresapi apa yang terlihat serta terjadi di sekeliling. Lalu merealisasikan dalam bentuk tindakan. Kelak, itu semua menjadi sebuah ilmu kehidupan yang tidak diperoleh dari bangku sekolah. 

Salah satu yang saya dapatkan adalah sebuah petuah dari pak tua pengayuh becak. Saat itu saya sedang mengadakan perjalanan ke Solo. Agar bisa menikmati suasana Solo maka kami menyewa becak untuk berkeliling seputar Solo. Saya bersama beberapa kawan konvoi naik becak.


Dalam sebuah perjalanan, salah satu kawan ada yang melempar sisa makanan ke dalam tong sampah. Sebuah tindakan yang baik. Karena tetap menjaga kebersihan di mana pun berada. Serta membuang sampah selalu pada tempatnya. 

Tiba-tiba pak tua pengayuh becak yang saya tumpangi berujar.

“Mohon maaf ngeh Mba. Saya ndak bermaksud menggurui. Hanya menyarankan. Besok-besok kalau ada makanan yang sudah ndak doyan atau ndak habis. Letakkan saja di tepi jalan. Jangan dimasukkan tong sampah. Nanti tercampur dengan kotoran lain. Padahal makanan seperti itu ada hak lain yang menanti. Seperti orang-orang gila misalnya.” 

Saya tersentak. Bukan marah atau kesal atas apa yang diucapkan oleh pak tua tersebut. Tetapi tersadar. Bahwa selama ini tidak berpikir sejauh itu. Saya pun sangat berterima kasih atas penuturan pak tua itu. Akhirnya kami pun terlibat perbincangan seru selama perjalanan. Banyak hal yang saya dapatkan dari perbincangan dengan pak tua pengayuh becak itu. Sebuah petuah yang cukup berharga. 


#onedayonepost
#kisahperjalanan




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Layar Tancap Dalam Kenangan

Pada suatu hari ketika saya melewati sebuah perkampungan yang sedang menggelar hajatan, ada sebuah pemandangan yang tiba-tiba menggelitik hati. Yaitu layar tancap (layar tancep). Sesuatu yang sudah jarang sekali ditemukan. Apalagi di zaman sekarang.  Dokumen pribadi Padahal beberapa tahun yang lalu layar tancap pernah menjadi primadona masyarakat. Terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah. Dahulu dalam setiap acara hajatan terutama jika masyarakat Betawi yang menggelarnya, layar tancap menjadi sebuah hiburan yang ditunggu-tunggu. Semacam tren mark yang tak boleh dilewatkan. Bahkan bisa menaikkan gengsi si pemilik hajat, bila dilihat dari jenis layar tancap yang disewa. Mabak. Itu salah satu jenis layar tancap yang dianggap paling bagus. Dari tampilan di layar, kejernihan suara dan kualitas gambar yang baik, mabak memang berbeda. Oleh karena itu harga sewanya konon mahal. Tak heran bila si empunya hajatan lantas disebut sebagai orang yang mampu. Sekitar tahun 1990-an ke...

Kiat Menjadi Muslimah Zaman Now

Muslimah. Sebutan bagi perempuan muslim, yang sepatutnya menjadi sebuah kebanggan. Sebab tidak semua perempuan mendapatkan predikat atau panggilan seperti itu. Ada campur tangan Allah yang bernama hidayah. Hidayah ini sesuatu yang mahal dan langka. Sepatutnyalah dijaga baik-baik jangan sampai terlepas begitu saja. Karena ini sebuah pertanda bahwa kita adalah orang-orang yang terpilih. Melalui hidayah yang diterima itulah maka seseorang bisa disebut muslimah. Hal ini merupakan tameng atau perisai diri bagi seorang perempuan (muslimah) tersebut. Bagaimana tidak? Dengan menjadi muslimah, harga diri si perempuan menjadi terjaga. Sebab Allah SWT sendiri yang langsung menjaganya dengan aturan-aturan yang tercantum  dalam Al-Qur'an. Kitab suci umat muslim yang berisi firman-firman Allah. Salah satunya tentang bagaimana seharusnya seorang muslimah itu berbusana. Picture by pinterest Hal ini tercantum dalam surat An-Nur ayat: 31 yang bunyi artinya sebagai...

Misteri Pohon Besar di Kalibata City Apartement

Saat saya sedang berjalan-jalan di Kalibata City Apartment, Jakarta Selatan. Pandangan saya tertarik pada sebuah pohon besar di samping belakang apartement. Ukuran pohonnya memang besar sekali. Pikir saya. ”Kenapa tidak ditebang? Bisa bahaya kalau roboh.”  Dokumen pribadi Saya pun iseng menanyakan hal tersebut kepada kawan yang sudah lama tinggal di sana. Jawabannya sungguh membuat merinding bulu kuduk.  “Gak ada yang bisa menebang pohon tersebut. Karena banyak penunggunya. Setiap malam ada saja yang melihat penampakan-penampakan dibawah pohon itu.”  Hiiii...Seram juga ya, pikir saya. “Makanya ada semacam meja kecil diatas pohon itu. Untuk tempat sesajen. Biar penunggunya gak mengganggu orang-orang di sini,” papar kawan saya. Diam-diam ada rasa penasaran dalam hati saya. Seperti apa sih pohon itu jika dilihat dari dekat?  Maka saya pun mendekati pohon tersebut. Memang besar sekali. Terlihat dari batangnya yang besar dan tinggi. Nama pohonnya ternyata pohon mah...