Langsung ke konten utama

Mewarnai Hidup Lewat Film Favorit

Film merupakan salah satu hiburan yang disukai oleh banyak orang. Dari berbagai usia dan kalangan. Sesuai dengan jenis film yang beredar di pasaran.

Bahkan ada sebagian orang yang menjadi kecanduan terhadap jenis hiburan yang satu ini. Karena memang film memiliki magnet dan daya tarik tersendiri.

Tinggal bagaimana si penikmat film tersebut, apakah mampu bersikap bijak atau tidak dalam menyikapi tontonan yang ada. Sehingga tidak menjadi candu yang bisa merugikan dirinya.

Sebagai salah satu penikmat segala jenis film, baik itu film produksi luar negeri atau dalam negeri, saya merasakan sendiri magnet dan kenikmatan dari menonton sebuah film. Yang jika tidak direm, bisa melambungkan hasrat untuk terus...terus dan terus menonton.

Lalu bagaimana cara saya menyikapi semua itu? Biasanya saya memilih dan memilah film yang benar-benar bagus dan berkualitas, menurut saya. Sebab cara pandang orang itu kan berbeda-beda. Bagus menurut saya belum tentu bagus menurut orang lain.

Biasanya lagi, saya mencari referensi terlebih dahulu dari film yang ingin saya tonton. Sehingga saya sudah memiliki gambaran dari film tersebut. Bukan semata-mata ingin melihat akting si aktor atau aktrisnya. Tetapi harus ada “sesuatu” yang didapat dari apa yang saya tonton. Hikmah. Itu salah satunya. Jadi sisi hiburanya dapat, sisi ilmunya juga dapat.

Dari sekian film yang saya tonton, jika ditanyakan mana yang paling berkesan, agak bingung juga menjawabnya. Karena masing-masing memang memiliki kesan tersendiri. Setelah saya ingat-ingat, akhirnya film yang paling berkesan bagi saya adalah The Sound of Music, Kuch Kuch Hota Hai dan Assalamualaikum Beijing.

 Film The Sound of Music.


Film musical yang dirilis pada tanggal 2 Maret 1965 memberikan saya pelajaran tentang bagaimana mendekati hati anak-anak itu. Karena film ini memang berkisah tentang Maria yang diperankan oleh Julie Andrews dalam mengasuh 7 orang anak sekaligus. Anak dari seorang kapten yang tegas dan berdisiplin tinggi. Maria yang awalnya tidak disukai oleh anak-anak tersebut akhirnya justru sangat dicintai oleh mereka.

Hal ini menjadi bekal dan pembelajaran bagi saja ketika mengajar di Taman Kanak-kanak. Bahwa untuk bisa dekat dengan anak-anak gunakanlah hati. Ya, ketulusan hati. Karena anak-anak itu bisa merasakan dengan hati bagaimana hati kita.

Selain itu, film yang diangkat dari novel karya bersama Maria von Trapp, Howard Lindsay dan Russell Crouse ini merupakan kisah hidup si penulis. Dan menjadi film legenda sepanjang masa.  Untuk mendapatkan VCD film tersebut tidak mudah. Saya merasakannya. Meskipun akhirnya bisa mendapatkan. Tapi itu perlu perjuangan tersendiri. Ini merupakan kesan lain yang saya dapatkan dari sebuah tontonan berjudul The Sound of Music.

Film Kuch Kuch Hota Hai.

Film India yang di bintangi oleh Shah Rukh Khan dan Kajol ini dirilis pada tanggal 16 Oktober 1998. Film ini menjadi film India yang paling digemari dan digandrungi oleh banyak orang, saat itu. Ditulis apik oleh Karan Johan dengan jenis film drama percintaan.

Jalan cerita film ini sangat menarik dan memikat. Serta tidak terduga endingnya. Intinya, kalau cinta sejati itu memang ada. Dan kalau sudah jodohnya pasti akan dipersatukan. Meskipun harus melalui jalan berliku.

Saya yang awalnya tidak menyukai film India, gara-gara film ini jadi menyukai film India. Tetapi tetap, tidak semua juga. Tergantung siapa pemainnya. Selain itu, pembelajaran yang didapat adalah rasa kagum. Kagum terhadap industri perfilman India yang bisa terus memproduksi film-filmnya. Sementara kita, pernah merasakan mati suri dunia perfilman Indonesia.

Film Assalamualaikum Beijing.


Film Indonesia yang dirilis pada tanggal 30 Desember 2014 ini sempat membuat saya menangis saat membaca bukunya. Ya, film ini memang adaptasi dari novel karya Asma Nadia dengan judul sama. Saya ingin tahu akting pemainnya ketika memerankan si tokoh dalam novel tersebut. Dan ternyata sama bagusnya.

Selain itu saya juga penggemar karya-karya Asma Nadia. Sehingga menonton film yang diadaptasi dari novelnya menjadi keharusan tersendiri bagi saya. Sebagai pembelajaran, bagaimana sebuah film bisa sama bagusnya dengan novel yang ditulis.

Cerita film tersebut juga memberikan pesan moral yang baik. Bahwa kalau Tuhan sudah berkendak, tak perlu fisik sempurna untuk mendapatkan kesempurnaan cinta. Itu yang dialami si tokoh perempuan dalam film ini.

Hidup berkalang penyakit. Jangankan memikirkan jodoh. Membayangkan cinta pun ia sudah enggan. Karena siapalah dirinya? Tetapi jika Tuhan sudah punya mau. Apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Juga mudah.


#10DaysKF
#harike-5
#filmpalingberkesan







Komentar

  1. Hahaha...kutch kutch hotahai salah satu film favoritku Mb...nggak pernah bisen nontonnya

    BalasHapus
  2. Aaaaa, kutch kutch hotahai, i like it

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyiiik..Banyak yang suka. Kirain aku aja.. Hehe

      Hapus
  3. Aku belum liat yg the sound of music, kudu dunlud nih, kayae keren.

    BalasHapus

Posting Komentar