Langsung ke konten utama

Postingan

Nh. Dini in Memoriam

Nurhayati Sri Hardini atau yang lebih dikenal dengan nama Nh. Dini kini hanyalah sebuah nama. Sosok novelis dan sastrawan perempuan Indonesia ini telah tiada. Namun nama dan karya-karyanya abadi di hati para penggemarnya. Saya salah satu penggemarnya tersebut. Ada sekelumit cerita yang ingin saya bagikan terkait sosok dan karyanya. Semoga menginspirasi. Nh. Dini Berita Duka Itu Bukan Hoax Sebagai salah satu penggemar karya-karya Nh. Dini, tentu saja saya merasa kehilangan begitu mendengar kabar duka tentang dirinya. Sempat tidak percaya pada saat membaca berita kepergiannya tersebut dari cuitan seorang kawan di twitter. Segera saja saya membuka semua media online. Dan terhenyak karenanya. Berita itu benar adanya. Nh. Dini meninggal akibat kecelakaan mobil di tol Semarang. Nh. Dini yang lahir di Semarang, 29 Februari 1936 ini meninggalnya pun di Semarang, 4 Desember 2018. Kecintaannya akan Kota Semarang tergambar dalam buku yang ia tulis berseri dalam "Cerita Kenangan....

Oerip Lebih Oerip Dalam Perayaan 11 Tahun Oerip Berkarya

Bagi pencinta wastra tentu sudah tidak asing dengan nama Dian Oerip. Salah satu desainer etnik Indonesia yang namanya sudah mendunia. Nah, pada hari Sabtu, 2 Nopember 2019 kemarin ia merayakan "11 Tahun Oerip Berkarya." Wah, 11 tahun? Itu bukan rentang waktu yang sedikit. Selamat, selamat. Salut untuk Mba Dian Oerip atas dedikasinya bagi bangsa ini melalui wastra. Terutama dalam mengangkat wilayah Timur Indonesia. Karena memang baju rancangan Dian Oerip itu lebih banyak mengangkat tenun daerah Timur sana. Foto taken by IG Dian Oerip Orang menyebut baju rancangan Dian Oerip itu Satu Wastra Tiga Pulau. Artinya satu model baju bahannya berasal dari tiga pulau. Ada tenun Lombok, tenun Jepara dan tenun Baduy. Semua dijadikan satu dalam sebuah desain dengan tanpa memotong si kain tenun tersebut. Bingung ya membayangkannya? Bagi yang belum mengetahui desain rancangan Dian Oerip silakan goegling dulu deh. Dijamin jatuh hati karena unik. Bagaimana tidak unik? Dari ...

Sebab Kopi Sumatera di Amerika Saya Jatuh Cinta Dengan Kompasiana

Apabila cinta memanggilmu, ikutilah dia. Walau jalannya berliku-liku. (Kahlil Gibran) Begitulah cinta. Penuh liku. Cinta terhadap apa pun. Termasuk cinta dengan dunia tulis menulis. Saya sadar bahwa menulis itu tidak mudah. Tetapi karena saya senang menulis. Maka saya berusaha untuk senantiasa bisa menulis dengan baik. Meski harus jatuh bangun memulainya. Sebuah buku memotivasi saya untuk tidak mudah putus asa ketika menemui kendala. Pembangkit semangat diri saya manakala sedang down. Buku yang menginspirasi Menuangkan ide, gagasan dan pengalaman melalui tulisan. Agar bisa bermanfaat bagi orang lain. Itulah niat mulia dibalik keinginan saya menulis. Valentino  Rossi, Kompasiana dan Rasa Ini Memiliki blog pribadi salah satu upaya dalam mewujudkan niat tersebut. Berkegiatan dengan menggunakan blog dan yang terkait dengan blog. Selanjutnya terbersit juga untuk memiliki akun di Kompasiana. Sebab saya kerap membaca artikel-artikel menarik yang ada di Kompasiana. ...

Cara Menyelaraskan Antara Hobi dan Kodrati

Antara bengkel dan salon, pilih mana? Sebagai seorang biker tentu pilih bengkel. Tetapi sebagai seorang perempuan tentu memilih salon. Dan keduanya memerlukan waktu khusus. Agak bingung saat waktu luang yang ada hanya cukup untuk satu pilihan.  Sebenarnya perawatan tubuh untuk seorang biker itu perlu enggak sih? Sebab aktivitas seorang biker itu kebanyakan out door alias di luar ruangan. Lebih mengandalkan tenaga bukan wajah. Kalau menurut saya sih perlu. Sebagai bentuk penghargaan atas apa-apa yang sudah tubuh ini lakukan. Kepanasan, kehujanan, berdebu-debu dan terkena asap. Sayangnya sebagai seorang perempuan yang memiliki hobi bersepeda. Atau bermotor ribuan kilo. Urusan perawatan tubuh kurang diprioritaskan. Daripada menghabiskan waktu di salon lebih enak nongkrong di bengkel. Itu yang terlintas dipikiran selama ini. Namun begitu menyadari kodrat seorang perempuan yang perlu juga merawat tubuhnya. Akhirnya terpikir juga untuk melakukan perawatan tubuh...

Jangan Bermain-main Dengan Waktu

"Salatnya nanti saja pas di rumah. Keburu kok. Baru juga azan. Satu jam perjalanan ke rumah. Paling jam 1-an sampai. Masih keburulah untuk salat." Kata-kata yang tanpa disadari pernah Anda, saya dan kita semua ucapkan. Sepele saja sebenarnya. Tetapi siapa bisa menduga apa yang terjadi dengan sang waktu saat itu? Dokpri Perjalanan yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu 1 jam, ternyata molor sampai berjam-jam akibat truk yang mogok di tengah jalan. Macet parah tak terhindarkan. Maju enggak bisa mundur apalagi. Akhirnya kendaraan yang kita tumpangi berhenti berjam-jam di sana. Salat zuhur terlewat, salat ashar enggak tertangkap karena sudah hampir magrib baru tiba di rumah. Sudah sia-sia apa yang kita kerjakan hari itu. Dosa pula karena menunda salat. Syukurnya hanya macet. Kalau terjadi kecelakaan yang membuat kita tiada. Bagaimana coba pertanggungjawaban kepada Sang Pencipta? Audzubillah min dzalik. "Nak, tolong belikan ibu nasi uduk ya sepulang sekolah...

Radio Jadul dan Perjalanan Hijrahku

Pada masa kejayaannya radio menjadi barang rebutan oleh mereka yang senang akan berita dan hiburan. Radio kenangan Meskipun sudah ada televisi tetapi mendengar berita lewat radio rasanya lebih mantap. Jadilah satu radio yang ada di rumah menjadi rebutan. Terutama jika ada berita olahraga yang mana pembawa beritanya bisa menghidupkan suasana. Dimana-mana ramai orang berkerumun untuk mendengarkan acara sepak bola di radio. Tak terkecuali di rumah saya. Bapak orang yang paling banyak menguasai radio ini. Mulai dari berita politik, siaran olahraga dan juga langgam Jawa didengarkan semua. Saya dan anggota keluarga yang lain hanya mengikuti apa yang bapak putar. Tetapi ada momen dimana saya memiliki kebebasan penuh memilih siaran radio yang ingin diputar. Yakni menjelang azan magrib. Suasana seperti ini saya ganti siaran radionya dengan ceramah agama. Dan bapak tidak bisa protes. Hampir setiap sore kami mendengarkan ceramah agama. Bagi saya pribadi hal ini menjadi siraman ...

Siemens M35, Antara Gaji dan Mengaji

"Sampaikan kebenaran, walau satu ayat" Nasihat dari guru mengaji yang selalu saya pegang teguh. Terlepas diterima atau tidak nasihat tersebut oleh si pendengar.  Atas dasar itulah maka ketika dimintai nasihat oleh kawan atau siapa pun. Maka saya akan menyampaikannya sebatas kemampuan dan ilmu yang dimiliki. Suatu ketika saat saya masih bekerja di salah satu bank swasta, kawan satu kantor yang kebetulan pulangnya satu arah. Kerap curhat dan bertanya tentang agama kepada saya. Dengan ilmu yang masih sedikit, saya pun menyampaikan apa-apa yang saya ketahui. Salah satunya mengenai keutamaan membaca Al-Qur'an. Bahwasanya kebaikan dari mempelajari Al-Qur'an itu dihitung dari huruf per huruf. Jadi bisa dibayangkan berapa banyak pahala yang kita peroleh jika rajin membaca Al-Qur'an. Entah apa yang disampaikan dan bagaimana kawan saya menceritakan ulang semua itu di rumahnya. Tiba-tiba kawan saya berbisik: " Nik, Mbakku minta diajari ngaji sama kamu....