Langsung ke konten utama

Amalan-amalan Yang Dirindukan Saat Ramadan berlalu

Ramadan. Bulan yang paling mulia. Bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Tak terasa, Ramadan akan segera berakhir. Meninggalkan kita yang mencintainya. Kita yang senantiasa merindukan kehadirannya. Dalam hitungan hari, kita akan ditinggalkannya.

Sedih. Itu yang terasakan di dada. Terutama dalam Ramadan tahun ini. Sebab tidak maksimal ibadah Ramadan yang dilakukan. Semua akibat pandemi corona yang melanda dunia hingga Indonesia.

Begitu Ramadan berlalu, kita akan kehilangan kesempatan untuk mengumpulkan pundi-pundi pahala yang berlipat ganda. Ya, dalam bulan Ramadan setiap amal perbuatan kita memang dilipatgandakan. Saat Ramadannya berlalu maka saat itu pula pundi-pundi pahala kita kembali seperti biasanya.

Dokpri

Untuk itu mumpung masih ada kesempatan beberapa hari lagi. Saya pun segera mempersungguh ibadah di bulan Ramadan selain berpuasa. 

1 . Membaca Al-Qur'an
Khatam Qur'an selama bulan Ramadan adalah salah satu target yang ingin dicapai. Semoga berhasil.

2 . Salat tarawih
Meski di rumah saja, saya usahakan selalu salat tarawih. Sebab hanya di bulan Ramadan kita bisa menjumpai salat tarawih.

3 . Salat malam atau tahajud
Selama Ramadan ibadah satu ini tak boleh dilewatkan. Kenapa? Karena keutamaannya. Hari biasa saja salat malam ini merupakan salat yang utama. Apalagi saat bulan Ramadan. Jadi tidak boleh dilewatkan.

4 . Begadang demi Lailatul Qadar
Meski tidak bisa beritikaf di masjid. Bukan berarti tak bisa mencegat malam Lailatul Qadar. Bisa. Yaitu dengan begadang di rumah.

5 . Bersedekah
Sekecil apapun. Sedekah yang dilakukan akan dilipatgandakan. Jadi bersemangatlah melakukan hal tersebut.

Nah, amal-amalan tersebut yang kelihatannya sepele. Ternyata kita rindukan untuk dilakukan saat bulan Ramadan berikutnya. Ya, semoga bisa bertemu dengan Ramadan tahun depan. Aamiin. (EP)



#BPNRamadan2020










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Layar Tancap Dalam Kenangan

Pada suatu hari ketika saya melewati sebuah perkampungan yang sedang menggelar hajatan, ada sebuah pemandangan yang tiba-tiba menggelitik hati. Yaitu layar tancap (layar tancep). Sesuatu yang sudah jarang sekali ditemukan. Apalagi di zaman sekarang.  Dokumen pribadi Padahal beberapa tahun yang lalu layar tancap pernah menjadi primadona masyarakat. Terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah. Dahulu dalam setiap acara hajatan terutama jika masyarakat Betawi yang menggelarnya, layar tancap menjadi sebuah hiburan yang ditunggu-tunggu. Semacam tren mark yang tak boleh dilewatkan. Bahkan bisa menaikkan gengsi si pemilik hajat, bila dilihat dari jenis layar tancap yang disewa. Mabak. Itu salah satu jenis layar tancap yang dianggap paling bagus. Dari tampilan di layar, kejernihan suara dan kualitas gambar yang baik, mabak memang berbeda. Oleh karena itu harga sewanya konon mahal. Tak heran bila si empunya hajatan lantas disebut sebagai orang yang mampu. Sekitar tahun 1990-an ke...

Misteri Pohon Besar di Kalibata City Apartement

Saat saya sedang berjalan-jalan di Kalibata City Apartment, Jakarta Selatan. Pandangan saya tertarik pada sebuah pohon besar di samping belakang apartement. Ukuran pohonnya memang besar sekali. Pikir saya. ”Kenapa tidak ditebang? Bisa bahaya kalau roboh.”  Dokumen pribadi Saya pun iseng menanyakan hal tersebut kepada kawan yang sudah lama tinggal di sana. Jawabannya sungguh membuat merinding bulu kuduk.  “Gak ada yang bisa menebang pohon tersebut. Karena banyak penunggunya. Setiap malam ada saja yang melihat penampakan-penampakan dibawah pohon itu.”  Hiiii...Seram juga ya, pikir saya. “Makanya ada semacam meja kecil diatas pohon itu. Untuk tempat sesajen. Biar penunggunya gak mengganggu orang-orang di sini,” papar kawan saya. Diam-diam ada rasa penasaran dalam hati saya. Seperti apa sih pohon itu jika dilihat dari dekat?  Maka saya pun mendekati pohon tersebut. Memang besar sekali. Terlihat dari batangnya yang besar dan tinggi. Nama pohonnya ternyata pohon mah...

Bentengi Keluarga dari Perilaku Menyimpang dengan Ilmu Agama dan Komunikasi Dua Arah

Maraknya pemberitaan mengenai perilaku menyimpang yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak, membuat hati ini miris mendengarnya. Apalagi saat melihat korbannya (anak-anak) yang masih begitu polos dan lugu, hati dan batin ini ikut menjerit meski bukan keluarga sendiri korbannya. Hukuman yang tidak sepadan dengan akibat yang harus ditanggung oleh si korban, membuat nurani ini berontak. Ingin rasanya menghakimi sendiri para pelaku tersebut. Hukuman mati masih terlalu enak jika mengingat kebiadaban mereka terhadap anak-anak tak berdosa itu. Seharusnya di picis dulu lalu di tembak mati. Itu hukuman yang setimpal bagi mereka. Tetapi hukum yang berlaku tidak seperti itu. Pelaku hanya dijatuhi hukuman kurungan sekian tahun. Untuk selanjutnya bebas dan bisa melanjutkan aksinya kembali. Sementara korbannya menanggung derita dan trauma seumur hidup. Sungguh hukum yang sangat tidak adil. Ketidakadilan seperti ini mau tidak mau me...