Langsung ke konten utama

Rencana Tips Blogging Seorang Biker

Bicara tips blogging, secara khusus sih saya  merasa belum ada ya? Secara blog saya pun masih apalah-apalah. Artinya belum dimanage sedemikian rupa seperti para blogger profesional.

Picture by pixabay

Bukannya tidak ingin. Tapi sejauh ini kegiatan blogging saya memang belum sepenuhnya untuk menghasilkan cuan. Jadi ngeblognya masih sebatas untuk berbagi informasi, pengalaman dan kisah inspiratif. 

Harapannya bisa berguna dan bermanfaat bagi pembacanya. Menulis bagi saya ya semacam menebar kebaikan. Sebagai ladang amal soleh.

Kok ternyata dari hasil ngeblog tersebut mendapatkan cuan, itu semua bonus yang harus disyukuri toh.  Jadi tidak munafik kalau saya merasa senang. Tapi bukan berarti ingin langsung terjun sebagai blogger profesional. 

Duh, kayaknya belum deh. Ngeblognya saja masih nunanunu. Judulnya menulis. Bisa konsisten menulis setiap hari atau setiap ada hal-hal yang ingin disampaikan. Itu tuh sudah bersyukur sekali. Karena memang waktu dan ilmunya belum memadai.

Apalagi saya kebanyakan di jalan. Eh, tapi bicara jalan. Sebagai blogger yang suka riding dan sering bertualang dengan motor. Sempat terpikir juga nih. Gimana kalau bikin blog khusus riding atau membahas tentang petualangan bermotor. Blognya biker gitu. Kayaknya seru juga ya?

Beneran loh. Jadi kepikiran. Jadi ketika melakukan perjalanan atau ketika riding sambil menulis cerita perjalanan tersebut. Sepertinya seru ya? Tapi apa bisa? Lha, wong kalau sudah di jalan lebih banyak eksplor daerah yang dilalui. Kemudiu kuliner dan hahahahihihi

Eh, beneran pengin kayak gitu deh. Kalau kebanyakan orang kan bikin untuk YouTube. Saya sih tetep dalam bentuk tulisan. Asli. Kayaknya iya deh perlu dipikirkan lagi. Jadi ridingnya bermanfaat untuk blog juga. 

Semoga deh bisa konsisten dan terwujud nih blog. Aamiin. Doakan ya teman-teman. (EP)


#BPNRamadan2022

#Day12

Komentar

  1. Keren tujuan ngeblognya Mba, menulis untuk berbagi.
    Saya mah menulis untuk diri sendiri wakakakak.
    Sungguh egois si mamak Rey ini.

    Soalnya masih pengen ngeblog sesuai kenyamanan diri aja dulu, kalau terlalu di push, takutnya stres sendiri :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe menulis untuk healing ya Mak? Wah saya juga sih itu hihi

      Hapus
  2. aamiin, aamiin, semoga ngeblognya semakin semangat diiringi dengan minat akan jalan-jalannya. apalagi ditambah dengan ngevlog mbak. pasti puas rasa berbaginya. :)

    BalasHapus
  3. Setuju banget kak! Sejatinya menulis di blog itu ya untuk berbagi. Duit adalah bonus :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Layar Tancap Dalam Kenangan

Pada suatu hari ketika saya melewati sebuah perkampungan yang sedang menggelar hajatan, ada sebuah pemandangan yang tiba-tiba menggelitik hati. Yaitu layar tancap (layar tancep). Sesuatu yang sudah jarang sekali ditemukan. Apalagi di zaman sekarang.  Dokumen pribadi Padahal beberapa tahun yang lalu layar tancap pernah menjadi primadona masyarakat. Terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah. Dahulu dalam setiap acara hajatan terutama jika masyarakat Betawi yang menggelarnya, layar tancap menjadi sebuah hiburan yang ditunggu-tunggu. Semacam tren mark yang tak boleh dilewatkan. Bahkan bisa menaikkan gengsi si pemilik hajat, bila dilihat dari jenis layar tancap yang disewa. Mabak. Itu salah satu jenis layar tancap yang dianggap paling bagus. Dari tampilan di layar, kejernihan suara dan kualitas gambar yang baik, mabak memang berbeda. Oleh karena itu harga sewanya konon mahal. Tak heran bila si empunya hajatan lantas disebut sebagai orang yang mampu. Sekitar tahun 1990-an ke...

Misteri Pohon Besar di Kalibata City Apartement

Saat saya sedang berjalan-jalan di Kalibata City Apartment, Jakarta Selatan. Pandangan saya tertarik pada sebuah pohon besar di samping belakang apartement. Ukuran pohonnya memang besar sekali. Pikir saya. ”Kenapa tidak ditebang? Bisa bahaya kalau roboh.”  Dokumen pribadi Saya pun iseng menanyakan hal tersebut kepada kawan yang sudah lama tinggal di sana. Jawabannya sungguh membuat merinding bulu kuduk.  “Gak ada yang bisa menebang pohon tersebut. Karena banyak penunggunya. Setiap malam ada saja yang melihat penampakan-penampakan dibawah pohon itu.”  Hiiii...Seram juga ya, pikir saya. “Makanya ada semacam meja kecil diatas pohon itu. Untuk tempat sesajen. Biar penunggunya gak mengganggu orang-orang di sini,” papar kawan saya. Diam-diam ada rasa penasaran dalam hati saya. Seperti apa sih pohon itu jika dilihat dari dekat?  Maka saya pun mendekati pohon tersebut. Memang besar sekali. Terlihat dari batangnya yang besar dan tinggi. Nama pohonnya ternyata pohon mah...

Bentengi Keluarga dari Perilaku Menyimpang dengan Ilmu Agama dan Komunikasi Dua Arah

Maraknya pemberitaan mengenai perilaku menyimpang yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak, membuat hati ini miris mendengarnya. Apalagi saat melihat korbannya (anak-anak) yang masih begitu polos dan lugu, hati dan batin ini ikut menjerit meski bukan keluarga sendiri korbannya. Hukuman yang tidak sepadan dengan akibat yang harus ditanggung oleh si korban, membuat nurani ini berontak. Ingin rasanya menghakimi sendiri para pelaku tersebut. Hukuman mati masih terlalu enak jika mengingat kebiadaban mereka terhadap anak-anak tak berdosa itu. Seharusnya di picis dulu lalu di tembak mati. Itu hukuman yang setimpal bagi mereka. Tetapi hukum yang berlaku tidak seperti itu. Pelaku hanya dijatuhi hukuman kurungan sekian tahun. Untuk selanjutnya bebas dan bisa melanjutkan aksinya kembali. Sementara korbannya menanggung derita dan trauma seumur hidup. Sungguh hukum yang sangat tidak adil. Ketidakadilan seperti ini mau tidak mau me...